animasi bergerak naruto dan onepiece
"Akulah gembala yang baik. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku." (Yohanes 10 : 1-24)

Selasa, 04 Oktober 2011

Kebudayaan Indis

Kebudayaan Indis

Materi : ke 1 & 2

Nama kelompok :

1. ADE IRMA SURYANI ( 10509440 )

2. ANDITA GUSKA SETIA RENI ( 16509082 )

3. DANIEL ( 11509024 )

4. HERLINDA WONGSO ( 11509462 )

3. RIZKY SEPTIANI ( 16509494 )

4. YURIKA PURNAMA SARI ( 13509575 )

Mata Kuliah : Psikologi Lintas Budaya

KEBUDAYAAN INDIS

Pendahuluan

Kehadiran orang Belanda ke kepulauan Indonesia yang bermula hanya untuk berdagang lalu kemudian menjadi penguasa di Indonesia sangat mempengaruhi kebudayaan serta gaya hidup orang Indonesia (khususnya masyarakat jawa). Munculnya kebudayaan Indis adalah kebudayaan baru dari sekelompok masyarakat keturunan Eropa dan pribumi. Berkembangnya kebudayaan ini pada jaman itu awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda serta larangan membawa istri dan perempuan Belanda ke Hindia Belanda, hal ini mendorong lelaki Belanda menikahi pendududk setempat. Maka, terjadilah pencampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran, serta menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi yang disebut gaya indis. Tidak hanya gaya hidup dan budaya yang tercampur oleh budaya Belanda namun bentuk rumah, bahasa, perlengkapan hidup, mata pencarian, kesenian dan juga religi yang termasuk dalam tujuh unsur kebudayaan Belanda.



Tinjauan Teori

Teori yang berhubungan dengan isi buku :

1. Adanya stratifikasi sosial yang merupakan pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal/ bertingkat. Dalam kehidupan masyarakat terdapat kriteria yang dipakai untuk menggolongkan orang dalam pelapisan sosial adalah sebagai berikut :

• Ukuran kekayaan, seseorang yang memiliki kekayaan paling banyak, ia akan menempati pelapisan di atas. Kekayaan tersebut misalnya dapat dilihat dari bentuk rumah, mobil pribadinya, cara berpakaian serta jenis bahan yang dipakai, kebiasaan atau cara berbelanja dan seterusnya.

• Ukuran kekuasaan, seseorang yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar akan menempati pelapisan yang tinggi dalam pelapisan social masyarakat yang bersangkutan.

• Ukuran kehormatan, orang yang disegani dan dihormati akan mendapat tempat atas dalam sistem pelapisan sosial. Ukuran semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat yang masih tradisional. Misalnya, orangtua atau orang yang dianggap berjasa dalam masyarakat atau kelompoknya. Ukuran kehormatan biasanya lepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan kekuasaan.

• Ukuran ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan digunakan sebagai salah satu faktor atau dasar pembentukan pelapisan sosial di dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.

Pada budaya ini, adanya golongan kebangsaan pada jaman itu, kami kaitkan dengan Teori Konflik Karl Marx (1818- 1883). Teori konflik Karl Marx didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke- 19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi.. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga.

Dilihat dari gaya hidup masyarakat pendukung kebudayaan indis yang memiliki kehidupan sosial dan ekonomi yang rata-rata lebih baik dibandingkan kehidupan masyarakat pribumi, dan juga pekerjaan yang lebih baik dibanding masyarakat pribumi pada umumnya, cukup menjelaskan bahwa pada jaman itu juga ada eksploitasi terhadap orang pribumi oleh orang keturunan.

2. Adanya Akulturasi Kebudayaan

Akulturasi adalah suatu proses sosial, yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Atau bisa juga di definisikan sebagai perpaduan antara kebudayaan yang berbeda yang berlangsung dengan damai dan serasi.

Di bawah ini beberapa faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya suatu proses Akulturasi. Diantaranya:

Faktor Intern (dalam), antara lain:

• Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)

• Adanya Penemuan Baru:

1. Discovery: penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada

2. Invention : penyempurnaan penemuan baru

3. Innovation /Inovasi: pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh : kesadaran masyarakat akan kekurangan unsure dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota masyarakat

• Konflik yang terjadii dalam masyarakat

• Pemberontakan atau revolusi

Faktor Ekstern (luar), antara lain:

1. Perubahan alam

2. Peperangan

3. Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi(penyebaran kebudayaan), akulturasi ( pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi).

Teori diatas dapat dikaitkan dengan kebudayaan Indis dibawah ini:

- Reflector menganjurkan pula hendaknya jangan bersikap memiliki sentiment dan menolak menggunakan unsur-unsur budaya bangsa Pribumi. Apabila perlu, setidak-tidaknya mereka bias mengawinkan dua unsur sebagai usaha baru dalam penciptaan.

- Adanya kelompok pakar ahli bangunan di Hindia Belanda yang menginginkan penggunaan unsur budaya tradisional jawa dalam penciptaan seni bangunan di Eropa.

- Kelompok pertama, mengutamakan pemindahan dari negeri ibu (Belanda), yang menghendaki seni bangunan (nasional Belanda) diberlakukan di daerah koloni, khususnya jawa. Alasannya ialah kemajuan teknik bangunan tidak mudah untuk diduga sebelumnya.

- Kelompok kedua, adanya pertimbangan politik, mereka lebih mengharapkan adanya peralihan ke seni jawa yang dapat menuju ke seni Indo-Eropa, yaitu apabila nantinya Hindia Belanda telah dapat berdiri sendiri.

Kalimat diatas menggambarkan bahwa terjadi perpaduan antara unsur kebudayaan yang berbeda antara unsur Jawa dan unsur Eropa tanpa menghilangkan unsur dari masing-masing kebudayaan yang ada.

Pembahasan

Awal terbentuknya kebudayaan Indis

Penjajahan Belanda pada kurun abad XVIII hingga abad XX tak hanya melahirkan kekerasan, tapi juga memicu proses pembentukan kebudayaan khas, yakni kebudayaan dan gaya hidup Indis. Budaya percampuran budaya Barat dan unsur-unsur budaya Timur. Jauh sebelum kedatangan bangsa Belanda di kepulauan Indonesia, di Pulau Jawa telah ada pendatang asal India, Cina, Arab, dan Portugis. Mula-mula orang-orang Belanda itu hanya datang untuk berdagang, tapi belakangan malah menjadi penguasa.Pada awalnya, mereka membangun gudang-gudang untuk menimbun rempah-rempah di Banten, Jepara, dan Jayakarta. Dengan modal kuat Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mendirikan gudang penyimpanan dan kantor dagang. Sekelilingnya diperkuat benteng pertahanan, lalu sekaligus digunakan sebagai tempat tinggal.

Benteng semacam ini menjadi hunian pada masa-masa awal orang Belanda di Pulau Jawa. Segala kesibukan perdagangan dan kehidupan sehari-hari berpusat di benteng semacam ini. Gubernur Jenderal Valckenier (1737 – 1741) adalah pejabat tertinggi terakhir yang tinggal dalam benteng. Sesudah itu, para gubernur jenderal penggantinya tinggal di luar benteng. Bahkan setelah keadaan di luar kota aman, secara bertahap mereka berani bertempat tinggal dan membangun rumah di luar tembok kota. Pos-pos penjagaan dengan benteng-benteng kecilnya didirikan di Ancol, Jacatra, Rijswijk, Noordwijk, Vijfhoek, dan Angke.

Di samping itu para pejabat tinggi VOC membangun rumah-rumah peristirahatan dan taman yang luas, yang lazim disebut landhuis dengan patron Belanda dari abad XVIII. Ciri-ciri awalnya masih dekat sekali dengan bangunan yang ada di Belanda. Secara pelahan mereka membangun rumah bercorak peralihan pada abad XVIII antara lain di Japan, Citrap, dan Pondok Gede. Cirinya bilik-bilik berukuran luas dan banyak. Ini menunjukkan bangunan landhuis dihuni oleh keluarga beranggota banyak yang terdiri atas keluarga inti, dengan puluhan bahkan ratusan budaknya.

Gaya hidup semacam di landhuizen itu tidak dikenal di negeri Belanda. Lama-kelamaan kota-kota pionir macam Batavia, Surabaya, dan Semarang yang terletak di hilir sungai dianggap kurang sehat karena dibangun di atas bekas rawa-rawa. Mereka kemudian memindahkan tempat tinggalnya ke permukiman baru di daerah pedalaman Jawa, yang dianggap lebih baik dan sehat. Di sini mereka mendirikan rumah tempat tinggal dan kelengkapannya yang disesuaikan dengan kondisi alam dan kehidupan sekeliling dengan mengambil unsur budaya setempat. Pertumbuhan budaya baru ini pada awalnya didukung oleh kebiasaan hidup membujang para pejabat Belanda. Larangan membawa istri (kecuali pejabat tinggi) dan mendatangkan wanita Belanda ke Hindia Belanda memacu terjadinya percampuran darah yang melahirkan anak-anak campuran dan menumbuhkan budaya dan gaya hidup Belanda-Pribumi, atau gaya Indis.Kata “Indis” berasal dari bahasa Belanda Nederlandsch Indie atau Hindia Belanda, yaitu nama daerah jajahan Belanda di seberang lautan yang secara geografis meliputi jajahan di kepulauan yang disebut Nederlandsch Oost Indie, untuk membedakan dengan sebuah wilayah jajahan lain yang disebut Nederlandsch West Indie, yang meliputi wilayah Suriname dan Curascao. Konsep Indis di sini hanya terbatas pada ruang lingkup di daerah kebudayaan Jawa, yaitu tempat khusus bertemunya kebudayaan Eropa (Belanda) dengan Jawa sejak abad XVIII sampai medio abad XX. Kehadiran bangsa Belanda sebagai penguasa di Pulau Jawa menyebabkan pertemuan dua kebudayaan yang jauh berbeda itu makin kental. Kebudayaan Eropa (Belanda) dan Timur (Jawa), yang berbeda etnik dan struktur sosial membaur jadi satu.Golongan masyarakat atas adalah pendukung utama kebudayaan Indis. Dalam membangun rumah tempat tinggal gaya Indis, golongan pengusaha atau pedagang berperan cukup besar, misalnya mereka yang tinggal di Laweyan (Surakarta), dan Kotagede (Yogyakarta). Pada masa VOC, secara garis besar struktur masyarakat dibedakan atas beberapa kelompok. Masyarakat utama disebut signores, kemudian keturunannya disebut sinyo. Yang langsung merupakan keturunan Belanda dengan pribumi “grad satu” disebut liplap, sedang “grad kedua” disebut grobiak, dan “grad ketiga” disebut kasoedik. Liplap biasanya menjadi pedagang atau pengusaha, yang sangat disukai menjadi pedagang budak karena mendapat untung banyak. Ada pun grobiak kebanyakan menjadi pelaut, nelayan, dan tentara, sedangkan kasoedik mata pencariannya menjadi pemburu dan nelayan.

Kelengkapan hidup pada kebudayaan Indis

a.Rumah tempat tinggal

Pada mulanya bangunan dari orang-orang Belanda di Indonesia khususnya di Jawa, bertolak dari arsitektur kolonial yang disesuaikan dengan kondisi tropis dan lingkungan budaya. Sebutannya landhuiz, yaitu hasil perkembangan rumah tradisional Hindu-Jawa yang diubah dengan penggunaan teknik, material batu, besi, dan genteng atau seng. Arsitek landhuizen yang terkenal saat itu antara lain Wolff Schoemaker, DW Berrety, dan Cardeel.Dalam membuat peraturan tentang bangunan gedung perkantoran dan rumah kedinasan Pemerintah Belanda memakai istilah Indische Huizen atau Indo Europeesche Bouwkunst. Hal ini mungkin dikarenakan bentuk bangunan yang tidak lagi murni bergaya Eropa, tetapi sudah bercampur dengan rumah adat Indonesia.

b. Pakaian dan kelengkapan

cirri lain gaya hidup pada zaman itu banyak dipengaruhi oleh gaya Eropa ialah tata busana . Karena pengaruh para pembantu rumah tangga dan para nyai, kaum perempuan indis mengenakan kain sarung dan kebaya. Kain dan kebaya juga dikenakan untuk pakaian sehari-hari oleh para perempuan eropa . Sedangkan para pria eropa mengenakan sarung dan baju takwo atau pakain tidur motif batik.

c. Alat berkarya dan berproduksi

Belanda mengenalkan kepada penduduk Pribumi berbagai alat untuk berkarya atau alat-alat yang dapat digunakan untuk memudahkan kehidupan misalkan : mesin jahit , lampu gantung , lampu gas , kereta tunggang yang disebut dosdos atau sado.

d. Kelengkapan alat dapur dan jenis makanan

Di negri belanda sampai sekarang banyak rumah makan yang menyediakan berbagai jenis menu Indis Tempo doloe dengan memasang papan nama yang bertuliskan “Indische Restaurant”. Banyak keluarga belanda , khususnya anak keturunan yang pernah tinggal atau datang dari Indonesia menghidangkan menu indische rijsttafel. Hidangan ini terdiri dari nasi soto ,nasi goreng , nasi rames , gado-gado,lumpia dan sebagainya. Sementara itu di Indonesia masyarakat indis termasuk priyai jawa menghidangkan makanan keluarg a dengan menu campuran eropa dan jawa misalnya : beafstuk , resoulles , soep .

PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

Pada masyarakat jawa orang muda wajib mengikuti adat istiadat dan kebiasaan orang tua mereka karena orang tua dianggap memiliki lebih banyak pengalaman . Dengan demikian proses belajar dan penyampaian pengetahuan serta nilai-nilai secara turun temurun , dari mulut ke mulut berperan sangat penting. Banyak peraturan dan kaidah-kaidah dalam masyarakat tradisional masih bercorak kaidah kesusilaan , kepercayaan , dan keagamaan . Adanya kiadah-kaidah tersebut membuat orang takut tertimpa akibat dunia maupun akhirat apabila melakukan pelanggaran . Proses pendidikan tradisional jawa yang semula berfungsi sebagai pelestarian budaya dan kesinambungan generasi , telah melunak pada masyarakat indis. Banyak unsure budaya jawa mempengaruhi anak-anak keturunan eropa dan sebaliknya pengaruh unsure kebudayaan eropa pada anak-anak priyai. Pada priyai pertama-tama menuntut kemajuan pada putranya dengan pendidikan modern , dengan maksut mereka dapat menduduki posisi jabatan dalam administrasi pemerintahan hindia belanda , suatu profesi yang terpandang dalam masyarakat Jawa .Pada system pendidikan menggunakan pendekatan buadaya setempat , di samping system pengenalan dan pendidikan gaya barat , memperekaya dan memperluas wawasan para siswa . Semua itu tidak mengubah sendi-sendi budaya jawa . misalnya dalam cara : berpakaian , bahasa , logika , materi bacaan , menulis dan berhitung yang pengajarannya di lakukan oleh guru-guru pribumi . Pendekatan dan pengenalan budaya barat tampak dalam cara berfikir dan agama .









RELIGI

Proses penyebaran agama katolik di Jawa di lakukan dengan berbagai cara , seperti mendirikan prasarana pendidikan , kesehatan peribadatan , memberikan bantuan social , serta melakukan sinkretisme dengan kebudayaan , kesenian dan agama setempat . Sinkretisme agama ini kemudian diimplementasikn dengan istilah lokalisasi , pembrimubian teologi , kontekstualisasi , dan inkulturasi . Robert J . Schreiter , C.P.P.S membedakan jenis sinkretisme dalam 3 kelompok : (1) sinkretisme agama Kristen dengan agama kepercayaan local , (2) sinkrtisme percampuran unsur-unsur bukan Kristen (3) system keagamaan yang bersifat selektif dalam memasukkan unsur-unsur Kristen , secara inplisit maupun eksplisit , sinkretisme berkaitan dengan usaha pencampuran unsure-unsur dari dua system keagamaan sampai satu titik perpaduan . Keberhasilan sinkretisme mengakibatkan gereja Kristen di Jawa di jadikan ajang kebudayaan jawa yang hendak mengadakan sosialisasi budaya dan agama . Gereja mempertahankan budaya local jawa , antara lain menggunakan gamelan untuk mengiringi upacara-upacara keagamaan , kidung-kidung jawa , figure-figur raja jawa dalam pewayangan dalam berbagai atributnya yang di padukan figure-figur keagamaan nasrani sebagai penggambaran visual tokoh suci agama nasrani .Keberhasilan enkulturasi tidak hanya berdampak pada munculnya kestabilan ideology , politik dan social , sejalan dalam kondisi zaman penjajahan .

Kehidupan Keluarga Sehari-hari di dalam Rumah

Suatu kebiasaan yang umum dilakukan bangsa Pribumi Jawa pada pagi hari adalah pergi ke kali. Sudah sejak lama keluarga keturunan Belanda membuat tempat untuk mandi (badhuisje) di tepi sungai. Kamar mandi yang terletak di dalam rumah sudah dikenal orang pada 1870, tentu saja masih bentuk sederhana. Kelengkapan tempat mandi juga terdapat di landhuizen milik para pejabat tinggi pemerintah. Orang yang lahir di Belanda sebenarnya membenci kebiasaan mandi setiap hari. Hal demikian itu juga berlaku bagi bangsa Portugis, termasuk juga perempuannya, khususnya para nona. Untuk menggantikan mandi mereka lebih senang mengenakan pakaian dalam yang tipis. Pada 1753 orang masih memberitakan kebiasaan seperti itu dengan menyebutkan wassen (mandi) untuk menjadikan tubuh segar.

Sebagai kebiasaan pagi setelah bangun tidur, suami-isteri para pejabat VOC duduk-duduk di serambi belakang sambil minum kopi atau teh dengan masih mengenakan pakaian tidur. Laki-laki mengenakan baju takwo dengan celana atau sarung batik. Perempuannya mengenakan sarung batik dan baju tipis warna putih berhiaskan renda putih. Kain batik yang sangat disukai adalah kain batik pekalongan. Menyambut tamu dengan hidangan mewah dan pesiar mengelilingi taman dan kebun juga dilakukan para pembesar Kolonial.

Daur Hidup dan Gaya Hidup Mewah

Daur hidup atau life cycle adalah suatu rangkayan dalam perkembangan kehidupan seseorang untuk kembali ke status aslinya dari satu tingkat ke tingkat berikutnya. Ada tiga peristiwa penting dalam daur kehidupan manusia, yaitu kelahiran, perkawinan, dan kematian. Ketiga upacara itu memiliki tujuan masing-masing. Upacara kelahiran dilangsungkan untuk menyambut kehadiran angota baru dalam suatu keluarga. Seluruh anggota keluarga berharap si upik selalu dalam keadaan sehat dan selamat. Upacara perkawinan diselenggarakan dengan mewah dengan harapan perkawinan yang baru dijalani kedua mempelai berlangsung penuh keselamatan. Upacara perkawinan lazimnya memerlukan biaya besar bagi terselenggarakannya perhelatan. Pada masa kejayaan VOC dan hindia Belanda justru peristiwa kematian yang mendapatkan perhatian istimewa. Kematian biasa diiringi berbagai upacara mewah dan memerlukan biaya yang sangat besar.

1. Upacara Kelahiran

Kelahiran anggota baru dalam keluarga lazim di rayakan dengan berbagai upacara. Sebelum melahirkan, keluarga Indis yang mampu sudah menyiapkan baju kanak-kanak, ranjang untuk si bayi, kelengkapan persalinan dan ruang tidur untuk si Upik. Upacara penting setelah kelahiran adalah pemberian nama dan upacara pembaptisan di gereja. Upacara-upacara untuk menyongsong kelahiran anak tidak terlalu banyak menelan biaya.

2. Upacara Pernikahan

Kemewahan upacara perkawinan ditentukan oleh kekayaan, tingkat jabatan, serta keberuntungan kedua calon pengantin dan orang tua pengantin. Upacara yang berlangsung semasa VOC dan pemerintahan hindia belanda berbeda dari waktu ke waktu. Paling bergengsi apabila upacara perkawinan diadakan pada Minggu sesudah upacara kebaktian gereja, pada masa kemudian yang dianggap bagus adalah waktu tengah hari. Pada akhir abad ke-18, upacara tidak diadakan di gereja, tetapi mereka mengundang pendeta ke rumah pengantin perempuan. Hal ini juga menambah gengsi tuan rumah dan pendeta karena Bapak Pendeta menyampaikan pemberkatan perkawinan di depan para tamu agung. Para tamu hadir dengan berpakaian bagus-bagus dan mahal.

3. Upacara Kematian

Upacara kematian diselenggarakan dengan mewah dan menelan biaya sangat besar. Upacara kematian untuk pejabat VOC atau pemerintahan Hindia Belanda memerlukan pengerahan banyak tenaga dan pemikiran berbagai pihak. Pengerahan banyak dilakukan oleh banyak pihak, mulai dari keluarga, rohaniawan, pejabat sipil, militer, sampai serdadu dan pemikul peti jenazah atau penggali kubur. Pada masa kejayaan VOC dan pemerintahan Hindia Belanda, uapacara yang berhubungan dengan kematian seorang pejabat tinggi justru merupakan ajang akan pamer kemewahan, kebesaran dan kemegahan. Bagi masyarakat Batavia, upacara kematian adalah upacara yang penuh gengsi dan kemegahan di samping sebagai momentum keakraban.

Mengamati seni bangunan rumah dan hasil karya seni

Melalui karya seni lukis, foto gravir, relief, dan karya sastra, kini orang dapat mengetahui hasil seni bangunan rumah dan perabotan milik bangsa Belanda dan anak keturunannya di Indonesia. Biasanya pada lukisan hasil seniman belanda tercantum keterangan tertulis dari si seniman. Karya tulis dengan tambahan tulisan itu memperjelas berita tentang kehidupan dan gaya hidup masyarakat pada jamannya. Dalam seni lukis abad ke- 17 s/d 19, sedikit sekali kemungkinan para pelukis memalsukan objek yang dilukis. Pendapat ini disertakan beberapa alasan.

Pertama, para pelukis naturalis yang hidup pada abad ke-17 s/d 19 adalah pengikut yang terpengaruh oleh gaya periode Renaisans dan Barok. Pada masa itu “naturalisme” dan “akademisme” hidup dengan subur dikalangan seniman lukis Eropa. Dengan demikian didalam lukisan seniman-seniman Belanda pada jaman ini besar sekali kemungkinannya bahwa apa yang dilukis benar-benar ada dan tepat sesuai dengan bangunan serta keadaan pada waktu itu. Pelukis Belanda waktu itu mewujudkan karya lukisannya secara alami, didasarkan dari apa yang mereka lihat tanpa sedikitpun mengerjakan pengaruh pengaruh dari jiwanya.

Pelukis-pelukis Belanda pada jaman itu adalah, Johannes Oliver, Roorda Eysinga, Willebrands, J.Rach dan pelukis terbagus pada abad ke 17 adalah Jacob Janson Coeman.

Pola pemukiman masyarakat Indis di kota, Provinsi, dan Kabupaten

Budaya indis yang berkembang pada abad ke-18 s/d 19 dan berpusat ditanah-tanah partikelir (particuliere-landerijen) dan dilingkungan Indische landzhuichen. Pada permulaan abad ke-20 kebudayaan ini bergeser ke arah urban life seiring dengan hilangnya pusat-pusat kehidupan tersebut.

Sesuai dengan perkembangan ekonomi, pengajaran, dan pendidikan pada abad ke-19, jumlah gedung sekolah semakin banyak. Kehadiran para pejabat pemerinyah kolonial, baik yang berbangsa Belanda maupun Pribumi (priyayi), menyebabkan gambaran relief pola kota lebih berkembang. Pola pemukiman kota menunjukan secara jelas cerminan adanya pluralisme masyarakat, yang juga menunjukan stratifikasi sosial masyarakat kolonial Hindia Belanda. Pengelompokan permukiman berdasarkan warna kulit dan suku bangsa makin mencolok.

Contohnya, di Pasuruan, orang-orang cina tinggal di Pecinan sementara Pribumi tinggal dikampung-kampung yang berpenduduk padat.

Maclaine Pont berpendapat bahwa pada awal abad ke 20 bangunan kota-kota di pulau jawasudah banyak menerima pengaruh seni bangunan Belanda. Permukiman dan tempat tinggal penduduk di Kepulauan Hindia Belanda terbagi sesuai dengan golongan dan kebangsaannya. Ada empat golongan kebangsaan, yaitu :

1. anak negri atau bangsa pribumi

2. orang yang disamakan dengan anak negri (sesuai dengan sjart pemerintah Hindia Belanda pasal 109), seperti; orang cina, arab, koja, keling, mereka dinamakan “orang asing dibawah angin” untuk tinggal menetap mereka harus mendapat izin dari gubernur jenderal.

3. orang Eropa

4. orang yang disamakan dengan bangsa Eropa

Tata pemukiman penduduk kota pada abad ke-19 di jawa menunjukan secara jelas tentang adanya macam-macam golongan masyarakat kolonial. Pertama, dibagian kota tertentu terdapat kompleks perumahan tembok berhalaman luas dengan bangunan beratap tinggi. Ini adalah pemukiman golongan Eropa atau golongan elit pribumi. Kedua pecinan umumnya merupakan kelompok bangunan padat penduduk dan rapat satu sama lain, rumahnya beratapkan pelana lengkung, bagian mukan rumah dipakai untuk berjualan, usaha pertokoan atau pelayanan lain. Lazimnya kompleks pecinan terletak ditepi pasar kota di tepi jalan raya. Ketiga, kampung adalah tempat tinggal khusus bagi golongan pribumi, basanya rumahnya beratap pelana dari ijuk, daun rumbia sejenis palem, dan genting yang pada abad ke-19 jumlahnya masih sedikit.

Rendahnya perhatian pemerintah Hidia Belanda pada pemukiman bangsa pribumi sampai dengan awal abad ke-20 dapat kita ketahui dari tulisan dan keluhan Tillema berjudul Kromo Belanda sebanyak lima jilid. Ia seorang apoteker dan anggota Geemente Raad di semarang. Tillema menunujukan keadaan permukiman bangsa pribumi yang sangant buruk dan mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit yang meminta korban ribuan penduduk setiap tahun. Tillema mengharapkan perhatian pemerintah Hindia Belanda untuk mengadakan perbaikan pemukiman pendududk, khususnya bagi bangsa pribumi. Saran dan tujuan Tillema kemudia mendapat sambutan baik, antara lain dengan adanya Sociaal Technisce Vereeniging Congres yang pertama tahun 1922 di Semarang.

Upaya mencukupi Kebutuhan Perumahan Kota

Perkembangan dan perluasan kota-kota besar di Jawa dan di berbagai tempat menimbulkan kekurangan rumah tempat tinggal bagi penduduk kota. Hal demikian tidak dapat dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Berbagai upaya masyarakat pun dilakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut.

Pada 1930 pekarangan rumah dibuat sesuai dengan keperluan, dan dengan pertimbangan antara lain (a) makin mahalnya harga tanah dan material (b) orang mulai menyukai hal-hal praktis dan memenuhi segala keperluan dan selera, golangan masyarakat indis meniru gaya hidup seperti cara hidup panutan masyarkat indis (c) susunan keluarga inti dianggap lebih penting sehingga mempersempit keluarga diluar keluarga inti untuk ngeger, ngindung, magersari, dsb (d) karena keluarga indis kebanyakan adalah pegawai pemerintah yang kemungkinan besar sering pindah ke lain kota, atau karena promosi jabatan dan terbukanya kenaikan karier. Akibatnya, orang lebih suka membuat rumah sesuai dengan kebutuhan. Pada akhirnya Firma Vokerklein Woningbouw mendirikan rumah kecil sebanyak 600 buah, rumah besar 82 buah.

Penggunaan Unsur Seni Tradisional dalam Rumah Gaya Indis

Upaya untuk mewujudkan penggunaan unsur-unsur seni bangunan tradisional setempat (khususnya Jawa) telah dilontarkan oleh Reflector di dalam Indisch Bouwkundig De Locomotif, terbitan 30 Juli 1907. Reflector menyetujui dan mengharapkan, hendaknya para ahli di Hindia Belanda terpanggil dan sadar untuk bangun dan mengambil sumber-sumber inspirasi dari bumi Hindia Belanda yang tidak ada habis-habisnya, antara lain dengan mengambil contoh-contoh dari arsitektur hasil karya bangsa yang dianggapnya lebih rendah atau tidak beradab. Hendaknya karya-karya yang merupakan ilham dari orang jawa yang berbakat tersebut dapat dipakai untuk bahan ide membangun arsitektur modern di dunia Timur. Reflector menganjurkan pula hendaknya jangan bersikap memiliki sentiment dan menolak menggunakan unsur-unsur budaya bangsa Pribumi. Berlage pada 8 April 1924 menyebutkan dan membenarkan bahwa di Hindia Belanda terdapat dua kelompok pendapat tentang penggunaan atau pemakaian seni budaya jawa dalam bangunan. Kelompok pertama, mengutamakan pemindahan dari negeri ibu (Belanda), yang menghendaki seni bangunan (nasional Belanda) diberlakukan di daerah koloni, khususnya jawa. Alasannya ialah kemajuan teknik bangunan tidak mudah untuk diduga sebelumnya. Kelompok kedua, adanya pertimbangan politik, mereka lebih mengharapkan adanya peralihan ke seni jawa yang dapat menuju ke seni Indi-Eropa, yaitu apabila nantinya Hindia Belanda telah dapat berdiri sendiri.

Tentang Hiasan Rumah Tinggal
Arsitektur rumah tinggal merupakan suatu bentuk kebudayaan. Menurut Marcus Vitruvius Pallio, tiga unsur yang merupakan faktor dasar dalam arsitektur yaitu: a. kenyamanan (convenience), b. kekuatan atau kekukuhan (strength) dan c. keindahan (beauty). Ketiga factor tersebut saling berhubungan dan selalu hadir dalam struktur bangunan yang serasi. Ketiga factor tersebut merupakan dasar penciptaan arsitektur yang memiliki estetika. Dari ketiga factor ini, wajarlah kiranya untuk menyebut bahwa arsitektur adalah suatu karya seni yang diciptakan melalui proses yang sangat sulit dan rumit. Karya seni umumnya hanya mementingkan aspek keindahan, misalnya yang dapat dilihat ada karya patung, sastra, atau musik. Beberapa abad lalu, arsitektur Eropa identik dengan gaya Renaisans, Barok, Rokokok, Empire, dan sebagainya. Gaya arsitektur tersebut banyak menerapkan ragam hias atau ornament. Ragam hias yang mereka buat biasanya berupa gambar tokoh, binatang maupun manusia yang sedang tertawa, menyeringai dan sebagainya. Gambar atau ragam hiasan merupakan suara bentuk ekspresi jiwa yang kemudian menghiasi objek agar tampak indah, bernilai magis atau simbolik. Akan tetapi, sejak abad ke 20 banyak benda tidak lagi memerlikan hiasan. Misalnya truk atau kapal, yang digunakan untuk sarana angkutan besi batangan. Demikian pula halnya pada arsitektur rumah. Rumah dan interiornya tidak lagi dihiasi karena memang dianggap tidak perlu.

Kesimpulan

Dari pembahasan yang kami jabarkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa, penjajahan Belanda pada kurun abad XVIII hingga abad XX tak hanya melahirkan kekerasan, tapi juga memicu proses pembentukan kebudayaan khas, yakni kebudayaan dan gaya hidup Indis. Budaya gado-gado, percampuran budaya Barat dan unsur-unsur budaya Timur. Kebudayaan campuran ini mencakup ketujuh aspek unsur universal budaya bangsa, seperti yang dimiliki semua bangsa di dunia. Dengan demikian, kebudayaan Indis adalah kebudayaan yang merupakan kepanjangan kebudayaan Indonesia, yang terdiri atas kebudayaan Prasejarah, kebudayaan Hindu – Budha, dan kebudayaan Islam Indonesia. Bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda ke tangan balatentara Jepang pada 1942, perkembangan kebudayaan Indis ikut-ikutan terhenti. Gaya hidup Indis yang mewah terusik oleh PD II yang berkecamuk dan melumpuhkan gairah hidup. Sulitnya hidup masa perang juga menghentikan segala aktivitas kesenian.Sungguh pun bangunan rumah gaya Indis masih banyak yang berdiri kokoh hingga kini, tetapi gaya hidup penghuninya yang bercirikan budaya Indis di Indonesia sudah tamat.Namun, sebagai buah kebudayaan, akar-akar budaya Indis masih ada yang tetap berlanjut, hidup di antara unsur-unsur budaya baru. Peradaban Indis tidak lagi menjadi kebanggaan sebagai identitas suatu golongan masyarakat dan sangat dimusuhi pada zaman Jepang dan revolusi fisik, tetapi telah melebur.Karena nilai-nilai baru belum ada, beberapa unsur peradaban yang banyak dianut dan diciptakan oleh kaum terpelajar, baik priyayi pribumi maupun golongan Indo, serta para birokrat pemerintahan dari masa zaman Hindia Belanda, masih tetap berlanjut.Sementara itu di Belanda orang-orang yang lahir atau pernah tinggal di Indonesia tetap melanjutkan kebudayaan Indis. Pasar malam Tong-tong di Den Haag, Indische Restaurant dengan sajian Indische rijsttafel seperti soto, nasi goreng, sate ayam, wedang ronde, sekoteng, dsb. hingga kini ramai dikunjungi orang.

Saran

Penyusun merasa belum dapat mengulas secara sempurna isi dari buku Prof. Dr. Djoko Soekiman, dalam judul Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa (1996). Karena itu, penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

Terimakasih

Penyusun

Daftar Pustaka



Soekiman, Djoko. 2011. Kebudayaan Indis Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi. Jakarta : Komunitas Bambu.

NN. 2010. Definisi Penyebab dan-Akulturasi. http://jolompong.blogspot.com. 25 September 2011.

Sujayanto, G. 2009. Budaya Indis ; Jawa Bukan Belanda. http://kopralcepot.blogspot.com. 25 September 2011.

Rabu, 30 Maret 2011

Kepribadian Sehat Menurut Psikoanalisa dan Behavioristik

1. Psikoanalisa

Kepribadian Sehat Menurut Psikoanalisa
Dalam psikologi dikenal berbagai macam mazhab dengan teorinya yang berbeda-beda, begitu juga dengan pengertian kepribadian yang normal berbeda-beda pada tiap mazhab. Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.
Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini mengabaikan Potensi yang dimiliki oleh manusia. Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini.

• Id mempresentasikan dunia batin pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif. Id terdiri dari dorongan-dorongan biologis dasar seperti kebutuhan makan, minum, seks, dan agresifitas. Dalam Id terdapat dua jenis energi yang saling bertentangan dan sangat mempengaruhi kehidupan individu, yaitu insting kehidupan dan insting mati. Dorongan-dorongan dalam Id selalu ingin dipuaskan, dan dalam pemuasannya Id selalu berupaya menghindari pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan (prinsip kesenangan atau Pleasure Principle).

• Ego merupakan energi yang mendorong untuk mengikuti prinsip kenyataan. Ego menjalankan fungsi pengendalian agar upaya pemuasan dorongan Id itu realistis atau sesuai dengan kenyataan

• Super Ego adalah hati nurani seseorang yang menilai benar atau salahnya tindakan seseorang. Itu berarti superego mewakili nilai-nilai ideal dan selalu berorientasi pada kesempurnaan.

Kepribadian Sehat Psikoanalisa:

• Pada alam pikiran tidak sadar dan kreativitas sebagai kompensasi untuk masa anak-anak yang traumatis.
• Individu bersifat egois, tidak bermoral, dan tidak mau tahu kenyataan.
• Manusia sebagai homo valens dengan berbagai dorongan dan keinginan
• Motif-motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang
• Manusia didorong oleh dorongan seksual agresif
• Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang depresi


Individu akan menyadari gejala-gejala psikis yang timbul, yaitu :

1) Tingkat sadar atau kesadaran (conscious level)Pada tingkat ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan lain-lain.

2) Tingkat prasadar (preconscious level)Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari hanya apabila individu memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan yang telah dipelajari, dan lain-lain.

3) Tingkat tidak disadari (unconscious level)Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu. Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral, pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional, dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan lain-lain. Tingkat tidak disadari inilah yang merupakan objek studi psikoanalisa.

Dalam aliran Psikoanalisa ini bisa dibilang manusia adalah korban tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak. Aliran ini melihat dari sisi negative individu, alam bawah sadar (id,ego,superego, mimpi dan masa lalu.
Pandangan kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang sakit atau kurang, ‘sisi yang pincang’ dari kodrat manusia, karna hanya berpusat pada tingkah laku yang neuritis dan psikotis.

Sigmund freud dan orang-orang yang mengikuti ajarannya mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan kebribadian yang sehat; atau kebribadian yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik.
Jadi, aliran ini memberi gambaran pesimis tentang kodrat manusia, dan manusia dianggap sebagai korban dari tekanan-tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak.

2. Behaviorisme

Behavioristik pada dasarnya berpegang pada keyakinan bahwa banyak perilaku manusia merupakan hasil suatu proses belajar dan karena itu, dapat diubah dengan belajar baru Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage danBerliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Aliran behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu system kompleks yang bertigkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas. Behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian lagi bercorak psikologis, yaitu :

1. Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, tepat atau salah. Berdasarkan bekal keturunan atau pembawaan dan berkat interaksi antara bekal keturunan dan lingkungan, terbentuk pola-pola bertingkah laku yang menjadi ciri-ciri khas dari kepribadiannya.
2. Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkah lakunya sendiri,menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
3. Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola tingkah laku yang baru melalui suatu proses belajar.
4. Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.

Kepribadian sehat behavioristik :
• Manusia adalah makhluk perespon; lingkungan mengontrol perilaku.
• Manusia tidak memiliki sikap diri sendiri
• Mementingkan faktor lingkungan
• Menekankan pada faktor bagian
• Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
• Sifatnya mekanis mementingkan masa lalu.

Manusia diperlukan sebagai mesin, layaknya alat pengatur panas yang mengatur semuanya. Aliran ini menganggap manusia yang memberikan respons positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini manusia dianggap tidak memiliki sikap diri sendiri. Dan ciri-cirinya yaitu : tersusun baik, teratur dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup dan krativitas. Jadi, manusia dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar dan manusia di anggap tidak memiliki diri sendiri.

Prinsip dasar behaviorisme:
1) Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
2) Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
3) Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
4) Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
5) Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
6) Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.
Behavioristik di pengaruhi oleh stimulus-respon. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Penguatan tersebut terbagi atas penguatan positif dan penguatan negatif.
Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang.

Referensi :

Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Alwilsol (2004), Psikologi Kepribadian, UMM Press

Konsep Sehat

Konsep Sehat

Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosialPengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatau keadaan ideal, dari sisi biologis, psiologis, dan sosial. Kalau demikian adanya, apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara biopsikososial. Untuk mendapat orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna itu sulit sekali, namun yang mendekati pada kondisi ideal tersebut ada.

Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial.

Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui, bila batasan kesehatan yang terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial, maka dalam Undang-Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan kesehatan menurut WHO yang paling baru.

Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Sehat dan sakit adalah keadaan biopsikososial yang menyatu dengan kehidupan manusia. Pengenalan manusia terhadap kedua konsep ini kemungkinan bersamaan dengan pengenalannya terhadap kondisi dirinya. Keadaan sehat dan sakit tersebut terus terjadi, dan manusia akan memerankan sebagai orang yang sehat atau sakit. Konsep sehat dan sakit merupakan bahasa kita sehari-hari, terjadi sepanjang sejarah manusia, dan dikenal di semua kebudayaan. Meskipun demikian untuk menentukan batasan-batasan secara eksak tidaklah mudah. Kesamaan atau kesepakatan pemahaman tentang sehat dan sakit secara universal adalah sangat sulit dicapai.

Pengertian kesehatan saat ini memang lebih luas dan dinamis, dibandingkan dengan batasan sebelumnya. Hal ini berarti bahwa kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi.

Bagi yang belum memasuki dunia kerja, anak dan remaja, atau bagi yang sudah tidak bekerja (pensiun) atau usia lanjut, berlaku arti produktif secara sosial. Misalnya produktif secara sosial-ekonomi bagi siswa sekolah atau mahasiswa adalah mencapai prestasi yang baik, sedang produktif secara sosial-ekonomi bagi usia lanjut atau para pensiunan adalah mempunyai kegiatan sosial dan keagamaan yang bermanfat, bukan saja bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain atau masyarakat.

Keempat dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan tingkat kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat. Itulah sebabnya, maka kesehatan bersifat menyeluruh mengandung keempat aspek. Perwujudan dari masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan seseorang antara lain sebagai berikut:

1. Kesehatan Fisik

Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.

2. Kesehatan Mental

Kesehatan mental atau kesehatan jiwa mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.

Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.

3. Kesehatan Sosial

Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.

4. Kesehatan Ekonomi

Sehat jika ditinjau dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku.

Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut.

reverensi :

http://bpi-uinsuskariau3.blogspot.com/2010/12/pengertian-kesehatan-mental-dan-konsep.html (Abdul Hadi Bin Basri )

http://www.smallcrab.com/kesehatan/595-empat-aspek-kesehatan-manusia

Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental

Perkembangan kesehatan mental dipengaruhi oleh dua tokoh perintisnya, yaitu Dorothea Lynde Dix dan Clifford Whittingham Beers. Kedua tokoh ini banyak mendedikasikan hidupnya dalam bidang pencegahan gangguan mental dan pertolongan bagi orang-orang miskin dan lemah. Dorthea Lynde Dix lahir pada tahun 1802 dan meninggal dunia pada tanggal 17 Juli 1887. Ia adalah seorang guru di Massachussets, yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental. Sebagian perintis (pioneer), selama 40 tahun Ia berjuang untuk memberikan pertolongan terhadap orang-orang yang mengalami gangguan mental agar dapat diperlakukan secara lebih manusiawi.

Usahanya mula-mula diarahkan pada para pasien di rumah sakit. Kemudian diperluas kepada para penderita gangguan mental yang dikurung di penjara. Pekerjaan Dix ini merupakan faktror penting dalam membangun kesadaran masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para penderita gangguan mental. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, di Amerika serilkat didirikan 32 rumah sakit jiwa, Ia layak mendapat pujian sebagai salah seorang wanita besar di abad 19.

Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dekade 1900-1990 beberapa organisasi kesehatan mental telah didirikan, sepert: American Social Hygiene Associatin (ASHA), dan American Federation for Sex Hygiene.
Perkembangan gerakan-gerakan dibidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, Ia dinobatkan sebagai ”The Founder Of The Mental Hygiene Movement”. Ia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.

Dedikasi Beers yang begitu kuat dalam kesehatan mental, dipengaruhi juga oleh pengalamannya sebagai pasien dibeberapa rumah sakit jiwa yang berbeda. Selama di rumah sakit, Ia mendapatkan pelayanan atau pengobatan yang keras dan kasar. Kondisi seperti ini terjadi, karena pada masa itu belum ada perhatian terhadap masalah gangguan mental, apalagi pengobatannya.

Setelah dua tahun mendapatkan perawatan dirumah sakit Ia mulai memperbaiki dirinya, dan selama tahun terakhirnya sebagai pasien, Ia mulai mengembangkan gagasan untuk membuat suatu gerakan untuk melindungi orang-orang yang mengalami gangguan mental. Setelah Ia kembali dalam kehidupan yang normal (sembuh dari penyakitnya), pada tahun 1908 Ia menindaklanjuti gagasannya dengan mempublikasikan sebuah tulisan autobiografinya sebagai mantan penderita gangguan mental, yang berjudul ”A Mind That Found It Self”. Kehadiran buku ini disambut baik oleh Willian james, sebagai seorang pakar psikologi. Dalam buku ini, Ia memberikan koreksi terhadap program pelayanan, perlakuan atau ”treatment” yang diberikan kepada para pasien di rumah sakit - rumah sakit yang dipandangnya kurang manusiawi. Disamping itu Ia melupakan reformasi terhadap lembaga yang diberikan perawatan gangguan mental.

Beers meyakini bahwa penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau disembuhkan. Selanjutnya Ia merancang suatu program yang bersifat nasional dengan tujuan:
1. Mereformasi program perawatan dan pengobatan terhadap orang-orang pengidap penyakit jiwa.
2. Melakukan penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka memiliki pemahaman dan sikap yang positif terhadap para pasien yang mengidap gangguan atau penyakit jiwa.
3. Mendorong dilakukannya berbagai penelitian tentang kasus-kasus dan pengobatan gangguan mental.
4. Mengembangkan praktik-praktik untuk mencegah gangguan mental.

Program Beers ini ternyata mendapat respon positif dari kalangan masyarakat, terutama kalangan para ahli, seperti Wlliam James dan seorang Psikiatris ternama, yaitu Adolf Mayer. Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers, Adolf Mayer menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama ”Mental Hygiene”. Dengan demikian, yang mempopulerkan istilah ”Mental Hygiene” adalah Mayer.

Belum lama setelah buku itu diterbitkan, yaitu pada tahun 1908, sebuah organisasi pertama, didirikan, dengan nama ”Connectievt Society For Mental Hygiene”. Satu tahu kemudian, tepatnya pada tanggal 19 Februari 1909 didirikan ”National Commitye Siciety For Mental Hygiene”, disini Beers diangkat menjadi sekretarisnya. Organisasi ini bertujuannya:
1.Melindungi kesehatan mental masyarakat
2.Menyusun standar perawatan para pengidap gangguan mental
3.Meningkatkan studi tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagai aspek yang terkait dengannya.

Terkait dengan perkembangan gerakan kesehatan mental ini, Deutsch mengemukakan bahwa pada masa dan pasca Perang Dunia I, gerakan kesehatan mental ini mengkonsentarsikan programnya untuk membantu mereka yang mengalami masalah serius. Setelah perang usai, gerakan kesehatan mental semakin berkembang dan cakupan garapannya meliputi berbagai bidang kegiatan, seperti : pendidikan, kesehatan masyarakat, pengobatan umum, industri, kriminologi, dan kerja sosial.

Secara hukum, gerakan kesehatan mental ini mendapatkan pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani ”The National Mental Helath Act”. Dokumen ini merupakan bluprint yang komprehensif, yang berisi program-program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.

Beberapa tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebnut itu meliputi:
1. Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, inevetigasi, eksperimen penanganan kasus-kasus, diagnosis dan pengobatan.
2. Membantu lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya.
3. Memberikan latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental
Pada tahun 1950 organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For Mental Health” yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health Foundation”, dan ”Psychiatric Foundation”.
Gerakan kesehatan mental ini terus berkambang, sehingga pada tahun 1975 di Amerika serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Dibelahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan “The World Health Organization”

Selasa, 04 Januari 2011

Bahaya Aktivasi Otak Tengah

Hati-hati, bisa gagal. Layaknya sebuah proses, proses aktivasi otak tengah juga punya peluang gagal. Aktivasi otak tengah dapat terancam gagal bila anak :

  • Merasa tidak nyaman dengan situasi lingkungannya.
  • Ada tekanan dari orang lain untuk mengikuti training.
  • Tidak percaya diri.
  • Tidak mau mengikuti instruksi.

Psikolog dari Universitas Soegyapranata Semarang, Dr Endang Widyorini, menuturkan bahwa kegiatan dan publikasi aktivasi otak tengah jelas bisa menjerumuskan pemahaman masyarakat, baik orangtua maupun guru, terhadap pemahaman jenius secara ilmiah. Pemahaman ini sudah didukung oleh berbagai penelitian panjang di berbagai bidang ilmu lebih dari seratus tahun.

Publikasi aktivasi otak tengah yang mengklaim dilandasi oleh pengetahuan ilmiah itu sungguh tidak ilmiah karena jauh dari pemahaman tentang jenius itu sendiri.

“Sebenarnya seseorang menjadi jenius tidak bisa dibuat dengan jalan instan seperti itu, dan tidak ada hubungan antara kejeniusan dengan otak tengah,” ujar ketua Program Magister Psikologi Universitas Soegyapranata Semarang ini.

Berkaitan dengan kejeniusan yang ditimbulkan dengan mengaktivasi otak tengah, dalam diskusi orangtua anak gifted (cerdas luar biasa/cerdas istimewa), suatu kelompok orangtua dengan anak-anak yang terdeteksi sebagai anak-anak gifted (cerdas istimewa) menyebutkan, metode aktivasi otak tengah yang tujuannya agar anak menjadi jenius, dilihat dari sudut ilmu apa pun, tidak dapat memberikan dukungan bagi pengembangan penelitian baginya.

Apalagi bila dilihat dari ilmu psikologi yang mengupas tentang anak jenius, juga tidak mungkin bisa memberikan dukungan secara teoritis, terutama tentang orisinalitas eksistensi kejeniusan. Inteligensi luar biasa adalah sebuah hal yang diturunkan, yaitu merupakan natur genetik. Natur genetik ini masih membutuhkan dukungan lingkungan agar si anak bisa menghasilkan prestasi luar biasanya sebagai karya jenius.

Dari sudut pandang ilmu kedokteran, baik ilmu saraf yang mempelajari fungsi otak maupun kedokteran anak yang mempelajari tumbuh kembang anak, jelas kedua cabang ilmu ini juga tidak bisa mendukung secara teoritis. Itu karena klaim aktivasi otak tengah tidak berkorelasi dengan teori dalam keilmuan kedokteran itu.

“Hingga hari ini belum ada satu pun publikasi ilmiah yang menyatakan bahwa aktivasi otak tengah meningkatkan kecerdasan manusia, apalagi meng-upgrade-nya menjadi jenius,” sebut Endang.

Dari sudut ilmu pendidikan, kegiatan aktivasi otak tengah juga menisbikan dan menolak keragaman yang terdapat pada tiap-tiap individu dan bertentangan dengan ragam teori dan kepustakaan ilmiah di bidang tumbuh kembang kognisi manusia (cognitive and learning theories).

Keragaman yang ditentukan oleh potensi dasar seseorang akan memengaruhi gaya belajar, cara berpikir, dan cara menyerap suatu informasi. Dengan prinsip yang ditawarkan oleh kegiatan aktivasi otak tengah, maka secara tidak langsung menjanjikan harapan-harapan palsu terhadap orangtua dan anak didik.

Endang mengatakan, kondisi yang dialami anak-anak apabila terjadi pemaksaan dalam pengaktivasian otak tengah ialah terjadinya awareness, yakni suatu kondisi mental penuh kewaspadaan.

Kondisi awareness yang berlebihan akan membuat seseorang mengalami berbagai gangguan kejiwaan, yakni berupa gejala kecemasan yang ringan sampai yang berat.

“Tentu ini berbahaya. Lagi pula jenius itu bukan sekadar membaca dengan mata tertutup kan?” ucapnya.

Psikolog keluarga dari Kasandra & Associates, Kasandra Putranto MPsi, mengatakan, otak tengah adalah penghubung otak depan dan otak belakang, dan apabila pengaktifan otak tengah ini dihubungkan dengan kejeniusan, maka itu tidak sepenuhnya benar.

“Justru dengan diaktifkan otak tengah, hanya bisa meningkatkan kepekaan anak agar bisa menggunakan indranya lebih kuat. Jadi, itu bukanlah meningkatkan kejeniusan, melainkan meningkatkan kepekaan indrawi,” tuturnya.


Sumber : http://wihans.web.id/aktivasi-otak-tengah-tak-efektif-bikin-anak-jenius
http://www.ayahbunda.co.id

Manfaat dari aktivasi otak tengah

Teori penggunaan otak tengah banyak dilakukan di Rusia, dan mulai berkembang di Jepang sejak 40 tahun silam. Kemudian latihan ini dipraktikkan di Malaysia sejak lima tahun lalu, dan masuk Indonesia menjelang akhir 2009.

Otak tengah, bagian dari otak. Otak tengah atau mid brain (mesencephalon) merupakan suatu bagian dari otak. Bagian ini relatif pendek dan menjadi penghubung antara otak depan (fore brain) dengan otak belakang (hind brain).

Menurut dr. Arman Yurisaldi S,M.S., SpS, dokter spesialis syaraf dan penulis buku “Mengungkap Misteri Otak Tengah”, secara anatomik otak tengah memang hanya sebagai penghubung, bukanlah pemain utama. Tapi otak tengah dikenal paling rumit fungsi dan rangkaiannya. Dan secara fungsional harus bekerja sama dengan bagian anatomi otak yang lain, yaitu sistem limbik yang akan menghantarkan impuls-impuls elektrik otak.
Penulis buku “Dahsyatnya Otak Tengah”, Hartono Sangkanparan menambahkan bahwa otak tengah yang berfungsi sebagai ‘master controller’ ini juga dapat mengendalikan kegiatan otak kanan dan kiri. Dan bila ada gangguan pada daerah otak tengah ini, bisa mengakibatkan terganggunya kesadaran.

Manfaat otak tengah. Mengapa pada saat proses aktivasi otak tengah, anak-anak bisa melihat benda dalam keadaan mata tertutup? Rani kembali menjelaskan bahwa otak tengah yang sudah teraktivasi memancarkan gelombang otak yang mirip radar. Akibatnya anak yang sudah teraktivasi otak tengahnya mampu melihat benda dalam keadaan mata tertutup.


Hartono dan Rani sepakat, bukan itu tujuan utama dari aktivasi otak tengah! Ada tujuan yang lebih penting, yaitu :

  • Meningkatkan daya konsentrasi
  • Daya tangkap lebih cepat.
  • Meningkatkan daya ingat
  • Tingkat kestabilan emosi lebih baik.
  • Meningkatkan kreativitas.
  • Lebih berprestasi.

Psikolog perkembangan dari Universitas Indonesia, Dra. Surastuti Nurdadi M.Si membenarkan manfaat aktifnya otak tengah tersebut. Menurutnya, gelombang Alpha memang mampu membuat kondisi seseorang menjadi rileks. Kondisi rileks sangat membantu anak menjadi lebih dapat berkonsentrasi dalam melakukan sesuatu. Konsentrasi ini yang membuat anak memiliki daya tangkap, daya ingat, lebih kreatif, berprestasi dan emosi yang stabil.

Ketika otak tengah diaktifkan , anak anda akan memiliki akses yang mudah ke baik otak kiri maupun kanan. Dengan akses mudah ini, mereka akan belajar, membaca dan mengahafal benda-benda dalam kecepatan yang lebih cepat dan dengan demikian meningkatkan keyakinan, minat dan konsentrasi mereka dalam belajar.

Berdasarkan sumber “Buku Dahsyatnya Otak Tengah” (Hartono Sangkanparan), ada beberapa manfaat yang juga ada pada otak tengah.

1. Meningkatkan Kemampuan Mengasihi Orang Lain

Otak tengah yang telah teraktivasi dapat membuat keseimbangan hormon dalam tubuh seseorang menjadi lebih baik. Salah satu fungsi otak tengah adalah mengatur hormon, di mana area yang mendapat pengaruh cukup besar adalah emosi. Seseorang yang otak tengahmya telah diaktifkan mempunyai keseimbangan emosi yang sangat baik dan mampu mengontrol emosinya dengan lebih baik.

2. Meningkatkan Daya Ingat

Meningkatnya daya ingat dapat membuat seseorang mampu belajar banyak dalam tempo yang lebih singkat. Jika dia belajar dengan waktu yang sama dengan orang lain, dia akan mendapat lebih banyak. Peningkatan daya ingat ini berhubungan langsung dengan semakin meluasnya jaringan pada sel otak seseorang.

3. Meningkatkan Kemampuan Inovasi dan Kreativitas

Inovatif adalah mampu menemukan dan menciptakan hal-hal baru. Kemampuan inovasi dan kreatifitas yang tinggi dapat dipergunakan untuk menghasilkan produk/sesuatu yang baru dan juga dapat dipergunakan untuk mencari alternatif pemecahan masalah yang baru.

4. Meningkatkan Konsentrasi

Meningkatnya konsentrasi dapat meningkatkan daya tangkap seseorang. Setelah otak tengahnya teraktivasi, seseorang bisa menangkap hal-hal yang rumit dengan lebih baik dan lebih mudah mengerti atau memahami sesuatu.

5. Meningkatkan Kemampuan Fisik dalam Berolahraga

Otak tengah adalah bagian otak yang mengatur gerakan tubuh. Banyak anak merasakan peningkatan dalam pengontrolan gerakan tubuh setelah otak tengah mereka diaktivasi, terutama ketika berolahraga yang membutuhkan ketelitian tinggi. Manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh mereka yang senang berolahrega tetapi juga oleh mereka yang senang dengan tarian dan gerakan tubuh lainnya. Gerakan yang banyak membutuhkan koordinasi mata dengan bagian tubuh yang lain akan banyak sekali ditingkatkan dengan aktifnya otak tengah.

6. Meningkatkan Keseimbangan Otak Kanan dan Otak Kiri

Keuntungan yang paling terasa pada anak-anak yang telah diaktivasi otak tengahnya adalah otak kanan dan otak kiri yang semakin seimbang. Keseimbangan ini akan membuat anak tersebut lebih mudah berhubungan dengan orang lain.

7. Meningkatkan Keseimbangan Hormon

Banyak sekali bagian dari tubuh kita yang diatur oleh hormon. Setiap hormon mempunyai fungsi yang berbeda. Otak tengah yang telah aktif membuat hormon-hormon ini menjadi seimbangdan berfungsi dengan harmonis dan hal ini membuat seseorang bisa menjadi lebih sehat dengan otak tengah yang aktif.

8. Meningakatkan Daya Intuisi

Intuisi adalah kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan tanpa masukan atau tanpa menggunakan alasan apapun. Jika kita mendapatkan intuisi kita tidak tahu dari mana asalnya. Otak kanan seringkali dianggap sebagai bagian otak yang bertanggung jawab atas intuisi yang muncul di kepala kita. Otak tengah dapat menggabungkan kemampuan logis otak kiri dan kemampuan intuisi otak kanan menjadi suatu intuisi yang sangat tepat. Seorang anak yang telah diaktifkan otak tengahnya akan mempunyai kemampuan intuisi yang lebih baik. Dengan latihan yang cukup lama dan intensitas yang cukup, ia dapat memprediksi.

9. Manfaat Secara Umum

Setelah otak tengah teraktivasi, masalah mental dapat diminimalisasikan. Oleh sebab itu, seorang anak yang hiperaktif dapat duduk dengan tenang, anak yang terlalu diam menjadi lebih aktif karena anak-anak tersebut telah memiliki otak tengah yang dominan. Hanya orang-orang yang dominan otak tengahnya yang dapat mengontrol otak kanan dan otak kiri sekaligus.

Umumnya masyarakat Indonesia didominasi oleh otak kiri. Penuh perhitungan, iri hati atau penuh kebencian biasanya muncul dari otak kiri. Jika otak kanan menjadi dominan kita akan penuh rasa kasih dan mengandalkan perasaan. Tentu saja menjadi keinginan kita semua untuk melihat masyarakat yang pandai sekaligus ramah tamah. Hal ini dimungkinkan dengan adanya dominasi otak tengah yang memungkinkan kedua otak berfungsi dengan baik dan benar.

Referensi :

http://www.ayahbunda.co.id

http://www.mbcindonesia.com

http://gmc-aktivasiotaktengah.com