Rabu, 30 Maret 2011
Kepribadian Sehat Menurut Psikoanalisa dan Behavioristik
Kepribadian Sehat Menurut Psikoanalisa
Dalam psikologi dikenal berbagai macam mazhab dengan teorinya yang berbeda-beda, begitu juga dengan pengertian kepribadian yang normal berbeda-beda pada tiap mazhab. Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.
Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini mengabaikan Potensi yang dimiliki oleh manusia. Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis dan pengalaman-pengalaman dini.
• Id mempresentasikan dunia batin pengalaman subjektif dan tidak mengenal kenyataan objektif. Id terdiri dari dorongan-dorongan biologis dasar seperti kebutuhan makan, minum, seks, dan agresifitas. Dalam Id terdapat dua jenis energi yang saling bertentangan dan sangat mempengaruhi kehidupan individu, yaitu insting kehidupan dan insting mati. Dorongan-dorongan dalam Id selalu ingin dipuaskan, dan dalam pemuasannya Id selalu berupaya menghindari pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan (prinsip kesenangan atau Pleasure Principle).
• Ego merupakan energi yang mendorong untuk mengikuti prinsip kenyataan. Ego menjalankan fungsi pengendalian agar upaya pemuasan dorongan Id itu realistis atau sesuai dengan kenyataan
• Super Ego adalah hati nurani seseorang yang menilai benar atau salahnya tindakan seseorang. Itu berarti superego mewakili nilai-nilai ideal dan selalu berorientasi pada kesempurnaan.
Kepribadian Sehat Psikoanalisa:
• Pada alam pikiran tidak sadar dan kreativitas sebagai kompensasi untuk masa anak-anak yang traumatis.
• Individu bersifat egois, tidak bermoral, dan tidak mau tahu kenyataan.
• Manusia sebagai homo valens dengan berbagai dorongan dan keinginan
• Motif-motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang
• Manusia didorong oleh dorongan seksual agresif
• Perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang depresi
Individu akan menyadari gejala-gejala psikis yang timbul, yaitu :
1) Tingkat sadar atau kesadaran (conscious level)Pada tingkat ini aktivitas mental dapat disadari setiap saat seperti berpikir, persepsi, dan lain-lain.
2) Tingkat prasadar (preconscious level)Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis yang timbul bias disadari hanya apabila individu memperhatikannya, misalnya memori, pengetahuan-pengetahuan yang telah dipelajari, dan lain-lain.
3) Tingkat tidak disadari (unconscious level)Pada tingkat ini aktivitas mental dan gejala-gejala psikis tidak disadari oleh individu. Gejala-gejala ini muncul misalnya dalam dorongan-dorongan immoral, pengalaman-pengalaman yang memalukan, harapan-harapan yang irasional, dorongan-dorongan seksual yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, dan lain-lain. Tingkat tidak disadari inilah yang merupakan objek studi psikoanalisa.
Dalam aliran Psikoanalisa ini bisa dibilang manusia adalah korban tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak. Aliran ini melihat dari sisi negative individu, alam bawah sadar (id,ego,superego, mimpi dan masa lalu.
Pandangan kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang sakit atau kurang, ‘sisi yang pincang’ dari kodrat manusia, karna hanya berpusat pada tingkah laku yang neuritis dan psikotis.
Sigmund freud dan orang-orang yang mengikuti ajarannya mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan kebribadian yang sehat; atau kebribadian yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik.
Jadi, aliran ini memberi gambaran pesimis tentang kodrat manusia, dan manusia dianggap sebagai korban dari tekanan-tekanan biologis dan konflik masa kanak-kanak.
2. Behaviorisme
Behavioristik pada dasarnya berpegang pada keyakinan bahwa banyak perilaku manusia merupakan hasil suatu proses belajar dan karena itu, dapat diubah dengan belajar baru Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage danBerliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
Aliran behaviorisme memperlakukan manusia sebagai mesin, yaitu di dalam suatu system kompleks yang bertigkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum. Dalam pandangan kaum behavioris, individu digambarkan sebagai suatu organisme yang bersifat baik, teratur, dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup, berkreativitas, seperti alat pengatur panas. Behavioristik berpangkal pada beberapa keyakinan tentang martabat manusia, yang sebagian bersifat falsafah dan sebagian lagi bercorak psikologis, yaitu :
1. Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, tepat atau salah. Berdasarkan bekal keturunan atau pembawaan dan berkat interaksi antara bekal keturunan dan lingkungan, terbentuk pola-pola bertingkah laku yang menjadi ciri-ciri khas dari kepribadiannya.
2. Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkah lakunya sendiri,menangkap apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
3. Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola tingkah laku yang baru melalui suatu proses belajar.
4. Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya pun dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
Kepribadian sehat behavioristik :
• Manusia adalah makhluk perespon; lingkungan mengontrol perilaku.
• Manusia tidak memiliki sikap diri sendiri
• Mementingkan faktor lingkungan
• Menekankan pada faktor bagian
• Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
• Sifatnya mekanis mementingkan masa lalu.
Manusia diperlukan sebagai mesin, layaknya alat pengatur panas yang mengatur semuanya. Aliran ini menganggap manusia yang memberikan respons positif yang berasal dari luar. Dalam aliran ini manusia dianggap tidak memiliki sikap diri sendiri. Dan ciri-cirinya yaitu : tersusun baik, teratur dan ditentukan sebelumnya, dengan banyak spontanitas, kegembiraan hidup dan krativitas. Jadi, manusia dilihat oleh para behavioris sebagai orang-orang yang memberikan respons secara pasif terhadap stimulus-stimulus dari luar dan manusia di anggap tidak memiliki diri sendiri.
Prinsip dasar behaviorisme:
1) Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
2) Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
3) Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
4) Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
5) Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
6) Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.
Behavioristik di pengaruhi oleh stimulus-respon. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Penguatan tersebut terbagi atas penguatan positif dan penguatan negatif.
Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang.
Referensi :
Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Alwilsol (2004), Psikologi Kepribadian, UMM Press
Konsep Sehat
Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya. Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat. Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat. Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosialPengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatau keadaan ideal, dari sisi biologis, psiologis, dan sosial. Kalau demikian adanya, apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara biopsikososial. Untuk mendapat orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna itu sulit sekali, namun yang mendekati pada kondisi ideal tersebut ada.
Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial.
Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui, bila batasan kesehatan yang terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial, maka dalam Undang-Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan kesehatan menurut WHO yang paling baru.
Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Sehat dan sakit adalah keadaan biopsikososial yang menyatu dengan kehidupan manusia. Pengenalan manusia terhadap kedua konsep ini kemungkinan bersamaan dengan pengenalannya terhadap kondisi dirinya. Keadaan sehat dan sakit tersebut terus terjadi, dan manusia akan memerankan sebagai orang yang sehat atau sakit. Konsep sehat dan sakit merupakan bahasa kita sehari-hari, terjadi sepanjang sejarah manusia, dan dikenal di semua kebudayaan. Meskipun demikian untuk menentukan batasan-batasan secara eksak tidaklah mudah. Kesamaan atau kesepakatan pemahaman tentang sehat dan sakit secara universal adalah sangat sulit dicapai.
Pengertian kesehatan saat ini memang lebih luas dan dinamis, dibandingkan dengan batasan sebelumnya. Hal ini berarti bahwa kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi.
Bagi yang belum memasuki dunia kerja, anak dan remaja, atau bagi yang sudah tidak bekerja (pensiun) atau usia lanjut, berlaku arti produktif secara sosial. Misalnya produktif secara sosial-ekonomi bagi siswa sekolah atau mahasiswa adalah mencapai prestasi yang baik, sedang produktif secara sosial-ekonomi bagi usia lanjut atau para pensiunan adalah mempunyai kegiatan sosial dan keagamaan yang bermanfat, bukan saja bagi dirinya, tetapi juga bagi orang lain atau masyarakat.
Keempat dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan tingkat kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat. Itulah sebabnya, maka kesehatan bersifat menyeluruh mengandung keempat aspek. Perwujudan dari masing-masing aspek tersebut dalam kesehatan seseorang antara lain sebagai berikut:
1. Kesehatan Fisik
Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
2. Kesehatan Mental
Kesehatan mental atau kesehatan jiwa mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
3. Kesehatan Sosial
Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
4. Kesehatan Ekonomi
Sehat jika ditinjau dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku.
Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut.
reverensi :
http://bpi-uinsuskariau3.blogspot.com/2010/12/pengertian-kesehatan-mental-dan-konsep.html (Abdul Hadi Bin Basri )
http://www.smallcrab.com/kesehatan/595-empat-aspek-kesehatan-manusia
Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Usahanya mula-mula diarahkan pada para pasien di rumah sakit. Kemudian diperluas kepada para penderita gangguan mental yang dikurung di penjara. Pekerjaan Dix ini merupakan faktror penting dalam membangun kesadaran masyarakat umum untuk memperhatikan kebutuhan para penderita gangguan mental. Berkat usahanya yang tak kenal lelah, di Amerika serilkat didirikan 32 rumah sakit jiwa, Ia layak mendapat pujian sebagai salah seorang wanita besar di abad 19.
Pada tahun 1909, gerakan kesehatan mental secara formal mulai muncul. Selama dekade 1900-1990 beberapa organisasi kesehatan mental telah didirikan, sepert: American Social Hygiene Associatin (ASHA), dan American Federation for Sex Hygiene.
Perkembangan gerakan-gerakan dibidang kesehatan mental ini tidak lepas dari jasa Clifford Whittingham Beers (1876-1943). Bahkan, karena jasa-jasanya itulah, Ia dinobatkan sebagai ”The Founder Of The Mental Hygiene Movement”. Ia terkenal karena pengalamannya yang luas dalam bidang pencegahan dan pengobatan gangguan mental dengan cara yang sangat manusiawi.
Dedikasi Beers yang begitu kuat dalam kesehatan mental, dipengaruhi juga oleh pengalamannya sebagai pasien dibeberapa rumah sakit jiwa yang berbeda. Selama di rumah sakit, Ia mendapatkan pelayanan atau pengobatan yang keras dan kasar. Kondisi seperti ini terjadi, karena pada masa itu belum ada perhatian terhadap masalah gangguan mental, apalagi pengobatannya.
Setelah dua tahun mendapatkan perawatan dirumah sakit Ia mulai memperbaiki dirinya, dan selama tahun terakhirnya sebagai pasien, Ia mulai mengembangkan gagasan untuk membuat suatu gerakan untuk melindungi orang-orang yang mengalami gangguan mental. Setelah Ia kembali dalam kehidupan yang normal (sembuh dari penyakitnya), pada tahun 1908 Ia menindaklanjuti gagasannya dengan mempublikasikan sebuah tulisan autobiografinya sebagai mantan penderita gangguan mental, yang berjudul ”A Mind That Found It Self”. Kehadiran buku ini disambut baik oleh Willian james, sebagai seorang pakar psikologi. Dalam buku ini, Ia memberikan koreksi terhadap program pelayanan, perlakuan atau ”treatment” yang diberikan kepada para pasien di rumah sakit - rumah sakit yang dipandangnya kurang manusiawi. Disamping itu Ia melupakan reformasi terhadap lembaga yang diberikan perawatan gangguan mental.
Beers meyakini bahwa penyakit atau gangguan mental dapat dicegah atau disembuhkan. Selanjutnya Ia merancang suatu program yang bersifat nasional dengan tujuan:
1. Mereformasi program perawatan dan pengobatan terhadap orang-orang pengidap penyakit jiwa.
2. Melakukan penyebaran informasi kepada masyarakat agar mereka memiliki pemahaman dan sikap yang positif terhadap para pasien yang mengidap gangguan atau penyakit jiwa.
3. Mendorong dilakukannya berbagai penelitian tentang kasus-kasus dan pengobatan gangguan mental.
4. Mengembangkan praktik-praktik untuk mencegah gangguan mental.
Program Beers ini ternyata mendapat respon positif dari kalangan masyarakat, terutama kalangan para ahli, seperti Wlliam James dan seorang Psikiatris ternama, yaitu Adolf Mayer. Begitu tertariknya terhadap gagasan Beers, Adolf Mayer menyarankan untuk menamai gerakan itu dengan nama ”Mental Hygiene”. Dengan demikian, yang mempopulerkan istilah ”Mental Hygiene” adalah Mayer.
Belum lama setelah buku itu diterbitkan, yaitu pada tahun 1908, sebuah organisasi pertama, didirikan, dengan nama ”Connectievt Society For Mental Hygiene”. Satu tahu kemudian, tepatnya pada tanggal 19 Februari 1909 didirikan ”National Commitye Siciety For Mental Hygiene”, disini Beers diangkat menjadi sekretarisnya. Organisasi ini bertujuannya:
1.Melindungi kesehatan mental masyarakat
2.Menyusun standar perawatan para pengidap gangguan mental
3.Meningkatkan studi tentang gangguan mental dalam segala bentuknya dan berbagai aspek yang terkait dengannya.
Terkait dengan perkembangan gerakan kesehatan mental ini, Deutsch mengemukakan bahwa pada masa dan pasca Perang Dunia I, gerakan kesehatan mental ini mengkonsentarsikan programnya untuk membantu mereka yang mengalami masalah serius. Setelah perang usai, gerakan kesehatan mental semakin berkembang dan cakupan garapannya meliputi berbagai bidang kegiatan, seperti : pendidikan, kesehatan masyarakat, pengobatan umum, industri, kriminologi, dan kerja sosial.
Secara hukum, gerakan kesehatan mental ini mendapatkan pengukuhannya pada tanggal 3 Juli 1946, yaitu ketika presiden Amerika Serikat menandatangani ”The National Mental Helath Act”. Dokumen ini merupakan bluprint yang komprehensif, yang berisi program-program jangka panjang yang diarahkan untuk meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat.
Beberapa tujuan yang terkandung dalam dokumen tersebnut itu meliputi:
1. Meningkatkan kesehatan mental seluruh warga masyarakat Amerika Serikat, melalui penelitian, inevetigasi, eksperimen penanganan kasus-kasus, diagnosis dan pengobatan.
2. Membantu lembaga-lembaga pemerintah dan swasta yang melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan koordinasi antara para peneliti dalam melakukan kegiatan penelitian dan meningkatkan kegiatan dan mengaplikasikan hasil-hasil penelitiannya.
3. Memberikan latihan terhadap para personel tentang kesehatan mental
Pada tahun 1950 organisasi kesehatan mental terus bertambah, yaitu dengan berdirinya ”National Association For Mental Health” yang bekerjasama dengan tiga organisasi swadaya masyarakat lainnya, yaitu ”National Committee For Mental Hygiene”, ”National Mental Health Foundation”, dan ”Psychiatric Foundation”.
Gerakan kesehatan mental ini terus berkambang, sehingga pada tahun 1975 di Amerika serikat terdapat lebih dari seribu tempat perkumpulan kesehatan mental. Dibelahan dunia lainnya, gerakan ini dikembangkan melalui ”The World Federation For Mental Health” dan “The World Health Organization”
Selasa, 04 Januari 2011
Bahaya Aktivasi Otak Tengah
Hati-hati, bisa gagal. Layaknya sebuah proses, proses aktivasi otak tengah juga punya peluang gagal. Aktivasi otak tengah dapat terancam gagal bila anak :
- Merasa tidak nyaman dengan situasi lingkungannya.
- Ada tekanan dari orang lain untuk mengikuti training.
- Tidak percaya diri.
- Tidak mau mengikuti instruksi.
Psikolog dari Universitas Soegyapranata Semarang, Dr Endang Widyorini, menuturkan bahwa kegiatan dan publikasi aktivasi otak tengah jelas bisa menjerumuskan pemahaman masyarakat, baik orangtua maupun guru, terhadap pemahaman jenius secara ilmiah. Pemahaman ini sudah didukung oleh berbagai penelitian panjang di berbagai bidang ilmu lebih dari seratus tahun.
Publikasi aktivasi otak tengah yang mengklaim dilandasi oleh pengetahuan ilmiah itu sungguh tidak ilmiah karena jauh dari pemahaman tentang jenius itu sendiri.
“Sebenarnya seseorang menjadi jenius tidak bisa dibuat dengan jalan instan seperti itu, dan tidak ada hubungan antara kejeniusan dengan otak tengah,” ujar ketua Program Magister Psikologi Universitas Soegyapranata Semarang ini.
Berkaitan dengan kejeniusan yang ditimbulkan dengan mengaktivasi otak tengah, dalam diskusi orangtua anak gifted (cerdas luar biasa/cerdas istimewa), suatu kelompok orangtua dengan anak-anak yang terdeteksi sebagai anak-anak gifted (cerdas istimewa) menyebutkan, metode aktivasi otak tengah yang tujuannya agar anak menjadi jenius, dilihat dari sudut ilmu apa pun, tidak dapat memberikan dukungan bagi pengembangan penelitian baginya.
Apalagi bila dilihat dari ilmu psikologi yang mengupas tentang anak jenius, juga tidak mungkin bisa memberikan dukungan secara teoritis, terutama tentang orisinalitas eksistensi kejeniusan. Inteligensi luar biasa adalah sebuah hal yang diturunkan, yaitu merupakan natur genetik. Natur genetik ini masih membutuhkan dukungan lingkungan agar si anak bisa menghasilkan prestasi luar biasanya sebagai karya jenius.
Dari sudut pandang ilmu kedokteran, baik ilmu saraf yang mempelajari fungsi otak maupun kedokteran anak yang mempelajari tumbuh kembang anak, jelas kedua cabang ilmu ini juga tidak bisa mendukung secara teoritis. Itu karena klaim aktivasi otak tengah tidak berkorelasi dengan teori dalam keilmuan kedokteran itu.
“Hingga hari ini belum ada satu pun publikasi ilmiah yang menyatakan bahwa aktivasi otak tengah meningkatkan kecerdasan manusia, apalagi meng-upgrade-nya menjadi jenius,” sebut Endang.
Dari sudut ilmu pendidikan, kegiatan aktivasi otak tengah juga menisbikan dan menolak keragaman yang terdapat pada tiap-tiap individu dan bertentangan dengan ragam teori dan kepustakaan ilmiah di bidang tumbuh kembang kognisi manusia (cognitive and learning theories).
Keragaman yang ditentukan oleh potensi dasar seseorang akan memengaruhi gaya belajar, cara berpikir, dan cara menyerap suatu informasi. Dengan prinsip yang ditawarkan oleh kegiatan aktivasi otak tengah, maka secara tidak langsung menjanjikan harapan-harapan palsu terhadap orangtua dan anak didik.
Endang mengatakan, kondisi yang dialami anak-anak apabila terjadi pemaksaan dalam pengaktivasian otak tengah ialah terjadinya awareness, yakni suatu kondisi mental penuh kewaspadaan.
Kondisi awareness yang berlebihan akan membuat seseorang mengalami berbagai gangguan kejiwaan, yakni berupa gejala kecemasan yang ringan sampai yang berat.
“Tentu ini berbahaya. Lagi pula jenius itu bukan sekadar membaca dengan mata tertutup kan?” ucapnya.
Psikolog keluarga dari Kasandra & Associates, Kasandra Putranto MPsi, mengatakan, otak tengah adalah penghubung otak depan dan otak belakang, dan apabila pengaktifan otak tengah ini dihubungkan dengan kejeniusan, maka itu tidak sepenuhnya benar.
“Justru dengan diaktifkan otak tengah, hanya bisa meningkatkan kepekaan anak agar bisa menggunakan indranya lebih kuat. Jadi, itu bukanlah meningkatkan kejeniusan, melainkan meningkatkan kepekaan indrawi,” tuturnya.
http://www.ayahbunda.co.id
Manfaat dari aktivasi otak tengah
Teori penggunaan otak tengah banyak dilakukan di Rusia, dan mulai berkembang di Jepang sejak 40 tahun silam. Kemudian latihan ini dipraktikkan di Malaysia sejak lima tahun lalu, dan masuk Indonesia menjelang akhir 2009.
Otak tengah, bagian dari otak. Otak tengah atau mid brain (mesencephalon) merupakan suatu bagian dari otak. Bagian ini relatif pendek dan menjadi penghubung antara otak depan (fore brain) dengan otak belakang (hind brain).
Menurut dr. Arman Yurisaldi S,M.S., SpS, dokter spesialis syaraf dan penulis buku “Mengungkap Misteri Otak Tengah”, secara anatomik otak tengah memang hanya sebagai penghubung, bukanlah pemain utama. Tapi otak tengah dikenal paling rumit fungsi dan rangkaiannya. Dan secara fungsional harus bekerja sama dengan bagian anatomi otak yang lain, yaitu sistem limbik yang akan menghantarkan impuls-impuls elektrik otak.
Penulis buku “Dahsyatnya Otak Tengah”, Hartono Sangkanparan menambahkan bahwa otak tengah yang berfungsi sebagai ‘master controller’ ini juga dapat mengendalikan kegiatan otak kanan dan kiri. Dan bila ada gangguan pada daerah otak tengah ini, bisa mengakibatkan terganggunya kesadaran.
Manfaat otak tengah. Mengapa pada saat proses aktivasi otak tengah, anak-anak bisa melihat benda dalam keadaan mata tertutup? Rani kembali menjelaskan bahwa otak tengah yang sudah teraktivasi memancarkan gelombang otak yang mirip radar. Akibatnya anak yang sudah teraktivasi otak tengahnya mampu melihat benda dalam keadaan mata tertutup.
Hartono dan Rani sepakat, bukan itu tujuan utama dari aktivasi otak tengah! Ada tujuan yang lebih penting, yaitu :
- Meningkatkan daya konsentrasi
- Daya tangkap lebih cepat.
- Meningkatkan daya ingat
- Tingkat kestabilan emosi lebih baik.
- Meningkatkan kreativitas.
- Lebih berprestasi.
Psikolog perkembangan dari Universitas Indonesia, Dra. Surastuti Nurdadi M.Si membenarkan manfaat aktifnya otak tengah tersebut. Menurutnya, gelombang Alpha memang mampu membuat kondisi seseorang menjadi rileks. Kondisi rileks sangat membantu anak menjadi lebih dapat berkonsentrasi dalam melakukan sesuatu. Konsentrasi ini yang membuat anak memiliki daya tangkap, daya ingat, lebih kreatif, berprestasi dan emosi yang stabil.
Ketika otak tengah diaktifkan , anak anda akan memiliki akses yang mudah ke baik otak kiri maupun kanan. Dengan akses mudah ini, mereka akan belajar, membaca dan mengahafal benda-benda dalam kecepatan yang lebih cepat dan dengan demikian meningkatkan keyakinan, minat dan konsentrasi mereka dalam belajar.
Berdasarkan sumber “Buku Dahsyatnya Otak Tengah” (Hartono Sangkanparan), ada beberapa manfaat yang juga ada pada otak tengah.
1. Meningkatkan Kemampuan Mengasihi Orang Lain
Otak tengah yang telah teraktivasi dapat membuat keseimbangan hormon dalam tubuh seseorang menjadi lebih baik. Salah satu fungsi otak tengah adalah mengatur hormon, di mana area yang mendapat pengaruh cukup besar adalah emosi. Seseorang yang otak tengahmya telah diaktifkan mempunyai keseimbangan emosi yang sangat baik dan mampu mengontrol emosinya dengan lebih baik.
2. Meningkatkan Daya Ingat
Meningkatnya daya ingat dapat membuat seseorang mampu belajar banyak dalam tempo yang lebih singkat. Jika dia belajar dengan waktu yang sama dengan orang lain, dia akan mendapat lebih banyak. Peningkatan daya ingat ini berhubungan langsung dengan semakin meluasnya jaringan pada sel otak seseorang.
3. Meningkatkan Kemampuan Inovasi dan Kreativitas
Inovatif adalah mampu menemukan dan menciptakan hal-hal baru. Kemampuan inovasi dan kreatifitas yang tinggi dapat dipergunakan untuk menghasilkan produk/sesuatu yang baru dan juga dapat dipergunakan untuk mencari alternatif pemecahan masalah yang baru.
4. Meningkatkan Konsentrasi
Meningkatnya konsentrasi dapat meningkatkan daya tangkap seseorang. Setelah otak tengahnya teraktivasi, seseorang bisa menangkap hal-hal yang rumit dengan lebih baik dan lebih mudah mengerti atau memahami sesuatu.
5. Meningkatkan Kemampuan Fisik dalam Berolahraga
Otak tengah adalah bagian otak yang mengatur gerakan tubuh. Banyak anak merasakan peningkatan dalam pengontrolan gerakan tubuh setelah otak tengah mereka diaktivasi, terutama ketika berolahraga yang membutuhkan ketelitian tinggi. Manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh mereka yang senang berolahrega tetapi juga oleh mereka yang senang dengan tarian dan gerakan tubuh lainnya. Gerakan yang banyak membutuhkan koordinasi mata dengan bagian tubuh yang lain akan banyak sekali ditingkatkan dengan aktifnya otak tengah.
6. Meningkatkan Keseimbangan Otak Kanan dan Otak Kiri
Keuntungan yang paling terasa pada anak-anak yang telah diaktivasi otak tengahnya adalah otak kanan dan otak kiri yang semakin seimbang. Keseimbangan ini akan membuat anak tersebut lebih mudah berhubungan dengan orang lain.
7. Meningkatkan Keseimbangan Hormon
Banyak sekali bagian dari tubuh kita yang diatur oleh hormon. Setiap hormon mempunyai fungsi yang berbeda. Otak tengah yang telah aktif membuat hormon-hormon ini menjadi seimbangdan berfungsi dengan harmonis dan hal ini membuat seseorang bisa menjadi lebih sehat dengan otak tengah yang aktif.
8. Meningakatkan Daya Intuisi
Intuisi adalah kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan tanpa masukan atau tanpa menggunakan alasan apapun. Jika kita mendapatkan intuisi kita tidak tahu dari mana asalnya. Otak kanan seringkali dianggap sebagai bagian otak yang bertanggung jawab atas intuisi yang muncul di kepala kita. Otak tengah dapat menggabungkan kemampuan logis otak kiri dan kemampuan intuisi otak kanan menjadi suatu intuisi yang sangat tepat. Seorang anak yang telah diaktifkan otak tengahnya akan mempunyai kemampuan intuisi yang lebih baik. Dengan latihan yang cukup lama dan intensitas yang cukup, ia dapat memprediksi.
9. Manfaat Secara Umum
Setelah otak tengah teraktivasi, masalah mental dapat diminimalisasikan. Oleh sebab itu, seorang anak yang hiperaktif dapat duduk dengan tenang, anak yang terlalu diam menjadi lebih aktif karena anak-anak tersebut telah memiliki otak tengah yang dominan. Hanya orang-orang yang dominan otak tengahnya yang dapat mengontrol otak kanan dan otak kiri sekaligus.
Umumnya masyarakat Indonesia didominasi oleh otak kiri. Penuh perhitungan, iri hati atau penuh kebencian biasanya muncul dari otak kiri. Jika otak kanan menjadi dominan kita akan penuh rasa kasih dan mengandalkan perasaan. Tentu saja menjadi keinginan kita semua untuk melihat masyarakat yang pandai sekaligus ramah tamah. Hal ini dimungkinkan dengan adanya dominasi otak tengah yang memungkinkan kedua otak berfungsi dengan baik dan benar.
Referensi :
http://gmc-aktivasiotaktengah.com
Cara Memulai Usaha Baru
Suatu cara bagi anda yang ingin berhasil dalam memulai usaha baru, dimulai dari dalam diri anda sendiri. Bukan seberapa besar modal yang anda miliki untuk membuka usaha baru, tetapi seberapa besarkah Tekad dan Keyakinan anda untuk berhasil. Tekad dan Keyakinan diperlukan untuk memperoleh hasil yang maksimal dan memberikan suatu ide – ide cemerlang (inspirasi) kreatif dalam pikiran anda untuk membuat usaha baru. Jika Anda akan memulai usaha yang memiliki kekuatan bertahan, ada empat sumber yang harus Anda miliki. Untuk memulai usaha baru hingga mencapai kesuksesan, Anda harus :
1. Memiliki Komitmen Penuh
Pengusaha sukses adalah orang-orang yang memiliki komitmen penuh pada usahanya. Anda harus siap meletakkan hati dan jiwa Anda pada apa yang Anda kerjakaan. Anda harus benar-benar percaya dengan produk atau jasa Anda, dan bersiap bekerja dengan waktu yang lama untuk meyakinkan orang lain agar percaya dengan produk Anda. Anda juga harus siap melepaskan liburan, dan bahkan kebutuhan seperti gaji. Dan Anda melakukan semua ini tanpa adanya rasa aman seperti yang dirasakan pegawai yang menerima gaji, tunjangan dan pensiun.
2. Menjadi "Tipe D”
Orang memiliki komitmen pada dirinya sendiri untuk semua hal. Hanya dengan memiliki komitmen tidak berarti otomatis mencapai kesuksesan bisnis. Jika Anda ingin mencapai tujuan kemana Anda pergi dan memiliki usaha yang bisa bertahan, Anda harus menjadi orang dengan “Tipe D” ; seseorang yang memiliki desire (hasrat) disertai drive (dorongan), dengan discipline (disiplin) yang kuat serta determination (keteguhan hati).
Tidak cukup hanya memiliki ide bisnis, tapi Anda juga harus mampu melaksanakannya. Pengusaha sukses adalah orang-orang yang ulet; rintangan adalah hambatan sesaat yang harus diselesaikan. Mereka tidak menerima jawaban “Tidak”, tapi hanya sebatas untuk me-frame ulang pertanyaan dari berbagai sudut dan menanyakan kembali. Tapi hasrat dan dorongan saja belumlah cukup untuk memulai usaha; Anda tidak ingin bisnis Anda hanya melesat sesaat. Disiplin dan keteguhan hati yang memberikan keberhasilan pengusaha untuk merealisasikan ide bisnisnya, melalui badai dan menenangkan iklim ekonomi. Pengetahuan adalah sumber lain yang Anda butuhkan sebelum memulai usaha.
3. Memahami Peluang Bisnis Yang Dibutuhkan
Banyak orang yang mencoba memulai usaha tanpa merasa perlu mendapatkan pengetahuan bisnis yang dikerjakan agar usaha mereka berhasil – tapi justru bisnis mereka gagal. Untuk memulai usaha, Anda harus memiliki pengetahuan terhadap aspek bisnis yang berbeda-beda dan memiliki ketrampilan yang berbeda, atau setidaknya telah melakukan riset untuk mendapatkan dan menyewa orang yang memiliki ketrampilan yang tidak Anda punyai.
Saat Anda menciptakan business plan, salah satu langkah yang dibutuhkan adalah penilaian yang jujur atas keterampilan dan keahlian Anda. Aspek bisnis mana yang Anda kuasai dan bisa ditangani, dan aspek mana yang masih perlu Anda pelajari lebih jauh atau memerlukan bantuan. Memahami peluang bisnis yang dibutuhkan lebih cenderung dari apa yang dibutuhkan konsumen dari pada keinginan hati anda untuk membuka sesuatu. Melihat peluang bisnis yang ada di lingkungan dan apa yang menjadi keperluan bagi konsumen itu yang menjadi suatu sasaran dalam memulai usaha baru.
Pengetahuan bisnis sebelum memulai usaha adalah hal yang sangat penting. Seluruh dukungan dan keteguhan tidak banyak membantu jika Anda tidak memiliki pengetahuan untuk menjalankan bisnis agar berhasil dan tidak melakukan riset serta merencanakannya dengan baik.
4. Memiliki Sistem Pendukung yang Baik.
Memiliki sistem pendukung yang baik ini bisa dimaksudkan adalah orang – orang sekitar anda yang senantiasa mendukung anda baik dalam hal memberikan saran ataupun mendengarkan gagasan anda dan masalah – masalh yang anda hadapi. Mereka dapat memberi masukan yang baik ataupun kritik yang dapat membangunm anda. Mereka adalah orangtua, sahabat maupun pasangan yang merupakan orang – orang terdekat dan memiliki hubungan baik dengan anda.
Setelah keempat hal ini anda miliki, tentunya hal yang selanjutnya yang harus anda miliki adalah modal untuk membuka usaha baru. Modal tentunya tidak harus dalam jumlah yang besar, tetapi cukup dari tabungan yang anda miliki atau uang yang ada sisihkan untuk perencanaan usaha yang baru yang akan anda buat. Setelah usaha yang anda miliki berjalan dengan baik, anda dapat melakukan peminjaman melalui koperasi ataupun Bank untuk mengembangkan usaha yang anda miliki.
Motivasi Melayani
Judul Makalah : MOTIVASI MELAYANI
BAB I
Pendahuluan
A. Latar belakang penulisan
Dalam segala kegiatan pelayanan baik dalam organisasi rohani maupun sekuler. Setiap orang pasti mempunyai alasan tersendiri mengapa seseorang bersedia melakukan pekerjaan tertentu atau mengapa orang yang satu bekerja lebih giat sedangkan yang lainnya bekerja biasa saja. Tentulah semua ini ada dasar alasan yang menyebabkan seseorang bersedia bekerja seperti itu atau dengan kata lain pasti ada hal yang mendorongnya. Motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri setiap individu yang menimbulkan kegiatan untuk melakukan sesuatu yang lebih dan menjamin kelangsungan dari tindakan apa yang akan dilakukannya. Sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat tercapai. Motivasi Melayani merupakan faktor yang paling menentukan dalam memenuhi dan melayani segala hal yang ingin dilakukukan.
BAB II
Tinjauan Pustaka
1. MOTIVASI
A. Pengertian Motivasi
Setiap orang pasti mempunyai alasan tersendiri mengapa seseorang bersedia melakukan pekerjaan tertentu atau mengapa orang yang satu bekerja lebih giat sedangkan yang lainnya bekerja biasa saja. Tentulah semua ini ada dasar alasan yang menyebabkan seseorang bersedia bekerja seperti itu atau dengan kata lain pasti ada motivasinya. Motivasi dalam Hasibuan (1996:92) berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti dorongan atau daya penggerak, maksudnya adalah motivasi merupakan sesuatu yang mendorong atau menggerakan seseorang untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan tertentu. Sejalan dengan hal tersebut Gibson, Invancevich dan Donnelly yang diterjemahkan oleh Djoerban Wahid (1994:262) menyatakan bahwa motivasi merupakan konsep yang digunakan untuk menggambarkan dorongan yang timbul pada atau di dalam individu yang menggerakan dan mengarahkan perilakunya. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Martin Handoko (1992:42) yang menyatakan motivasi sebagai suatu tenaga atau faktor yang terdapat di dalam diri manusia, yang menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya, lebih lanjut Martin Handoko (1992:42) mengatakan tindakan yang digerakan oleh suatu sebab yang datang dari luar individu disebut tindakan yang bermotif ekstrinsik, sedangkan tindakan yang datang dari dalam diri individu disebut dengan tindakan bermotif instrinsik. Sehingga dapat diartikan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar diri manusia, yang menggerakan dan mengarahkan prilakunya untuk melakukan pekerjaan dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah keadaan yang mendorong tingkah laku ( motivating states ), tingkah laku yang didorong oleh keadaan tersebut ( motivated behavior), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut ( goals or ends of such behavior ). Sedangkan McDonald (dalam Soemanto, 1987) mendefinisikan motivasi sebagai perubahan tenaga di dalam diri seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi- reaksi mencapai tujuan. Menurut Prayitno (1987:75), secara umum motivasi dapat diartikan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu dan bila ia tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Motivasi adalah penggerak tingkah laku ke arah suatu tujuan dengan didasari suatu kebutuhan (Rusyan, 1989:99).
Menurut Gibson dalam Anoraga dan Suyati (1995:72), ada dua teori motivasi yaitu : Teori Kepuasan dan Proses.
1. Teori kepuasan
Teori ini berdasarkan pendekatan atas faktor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu yang menyebabkannya bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu. Teori ini memusatkan perhatian pada faktor-faktor dalam diri orang yang menguatkan, mengarahkan, mendukung dan menghentikan perilakunya. Teori ini mencoba menjawab pertanyaan kebutuhan apa yang memuaskan dan mendorong semangat bekerja seseorang. Jadi pada dasarnya teori ini mengemukakan bahwa seseorang akan bersemangat bekerja untuk dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasannya. Yang termasuk dalam kelompok teori ini antara lain :
a. Teori Motivasi Klasik oleh F. W. Taylor
Menurut teori ini motivasi para pekerja hanya untuk dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan biologis saja, yaitu kebutuhan yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup seseorang.
b. Teori Hirarki Kebutuhan oleh A. H. Maslow
Menyatakan bahwa kebutuhan dan kepuasan para pekerja identik dengan kebutuhan biologis dan psikologis yang berupa materil maupun nonmaterial. Dasar dari teori ini adalah bahwa manusia merupakan mahluk sokial yang keinginannya tidak terbatas dan baru berhenti setelah akhir hayatnya tiba, alat motivasinya adalah kepuasan yang belum terpenuhi serta kebutuhannya bertingkat-tingkat (hirarki) dari yang paling rendah sampai dengan yang paling tinggi, dimana tingkat-tingkat tersebut adalah kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan diri, kebutuhan aktualisasi diri.
c. Teori Dua Faktor Henzberg oleh F. Henzberg
Menurut teori ini pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor utama yang merupakan kebutuhan yaitu : Faktor-faktor pemeliharaan, berhubungan dengan hakikat pekerja yang ingin memperoleh ketentraman badaniah yang berlangsung secara terus-menerus, misalnya:lapar-makan-kenyang-lapar. Dalam bekerja misalnya, gaji, kepastian bekerja dan supervise yang baik. Yang kedua yaitu faktor-faktor motivasi, merupakan faktor-faktor yang menyangkut kebutuhan psikologis yang berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan, misalnya ruangan yang nyaman, penempatan kerja yang sesuai dan lainya.
d. Teori Motivasi Prestasi oleh Mc. Clelland
Teori ini menyatakan bahwa seseorang pekerja memiliki energi potensial yang dapat dimanfaatkan tergantung pada dorongan motivasi, situasi dan peluang yang ada. Kebutuhan pekerja yang dapat memotivasi gairah kerja adalah : kebutuhan akan prestasi, kebutuhan akan afiliasi, kebutuhan akan kekuasaan.
e. Teori ERG (Existence, Relatedness, and Grouth) oleh Clynton Alderfer
Merupakan penyempurnaan dari teori yang dikemukakan oleh maslow dan menurut para ahli dianggap lebih mendekati keadaan yang sebenarnya menurut data empiris. Teori ini mengemukakan ada 3 kelompok kebutuhan utama, yaitu : kebutuhan keberadaan, kebutuhan afiliasi, dan kebutuhan kemajuan.
f. Teori Motivasi Human Relation
Teori ini mengutamakan hubungan seseorang dengan lingkungannya. Seseorang akan berprestasi baik jika orang tersebut diterima dan diakui dalam pekerjaan serta lingkunganya. Teori ini menganjurkan apabila dalam memotivasi pekerja memerlukan kata-kata yang mengandung bijaksana, sehingga dapat menimbulkan rasa dihargai dan sikap optimis.
g. Teori Motivasi Clund S. Georgers
Seseorang mempunyai kebutuhan yang berhubungan dengan tempat dan suasana ia bekerja yaitu: upah yang layak, kesempatan untuk maju, pengakuan sebagai individu, keamanan kerja, tempat kerja yang baik, penerimaan oleh kelompok, perlakuan yang wajar, pengakuan atas prestasi.
2. Teori Proses
Teori yang berusaha agar setiap pekerja mau bekerja giat sesuai dengan harapan. Daya penggerak yang memotivasi semangat kerja terkandung dari harapan yang akan diperolehnya. Jika harapan menjadi kenyataan maka pekerja cenderung akan meningkatkan kualitas kerjanya, begitu pula sebaliknya. Ada tiga macam teori motivasi proses yang terkenal yaitu :
a. Teori Harapan (V. H. Voorm)
Menyatakan bahwa kekuatan yang memotivasi seseorang untuk bekerja giat dalam mengerjakan pekerjaanya tergantung dari hubungan timbal balik antara apa yang ia inginkan dan yang dari hasil pekerjaan itu. Berapa besar orang tersebut yakin organisai akan memberikan pemuasan bagi keinginannya sebagai imbalan atau usaha yang dilakukannya itu. Bila keyakinan yang diharapkan cukup besar untuk memperoleh kepuasannya, maka orang tersebut akan bekerja keras pula. Teori ini didasarkan pada :
- Harapan (Expectancy), adalah suatu kesempatan yang disediakan dan akan terjadi karena adanya perilaku
- Nilai (valence), merupakan nilai yang diakibatkan oleh perilaku tertentu, misalnya nilai positif pada peristiwa terpilihnya seorang karena memang ingin dipilih.
- Pertauatan (instrumentality), yaitu besarnya probabilitas; jika bekerja secara efektif apakah akan terpenuhi keinginan dan kebutuhan tertentu yang diharapkan.
b. Teori Keadilan (Equity Theory)
Keadilan merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat seseorang, jika prinsip ini diterapkan dengan baik maka semangat kerja cenderng akan meningkat.
c. Teori pengukuhan (reinforcement Theory)
Teori ini didasarkan atas hubungan sebab akibat dari perilaku dengan pemberian kompensasi. Teori pengukuhan ini terdiri dari dua jenis, yaitu :
- Pengukuhan positif, yaitu bertambahnya frekuensi perilaku, terjadi jika pengukuh positif diterapkan secara beryarat.
- Pengukuhan negatif, yaitu bertambahnya frekuensi perilaku, terjadi jika pengukuh negatif dihilangkan secara bersyarat.
Jadi prinsip pengukuhan selalu berhubuangan dengan bertambahnya frekuensi dan tanggapan, apabila diikuti oleh suatu stimulus yang bersyarat. Demikian juga prinsip hukuman (Punishment) selalu berhubungan dengan berkurangnya frekuensi tanggapan, apabila tanggapan itu diikuti oleh rangsangan yang bersyarat.
B. Bentuk-bentuk motivasi
Bentuk-bentuk motivasi terbagi berdasarkan sumber dorongan internal atau eksternal darimana motivasi berasal.
1. Suryabrata dalam (Tomi Darmawan,2007) membedakan motivasi berdasarkan sebab-Sebab timbulnya motivasi itu sendiri ke dalam dua golongan, yaitu:
- Motivasi Intrinsik, adalah motivasi yang memang berasal dari dalam individu sendiri. Misalnya, orang yang gemar membaca tidak ada yang mendorongnya untuk membaca.
- Motivasi Ekstrinsik, adalah motivasi yang berasal dari luar individu dan berfungsi karena ada perangsang dari luar. Misalnya, orang giat belajar kalau diberi tahu sebentar lagi ujian.
2. Sternberg (1998), motivasi berasal dari dalam dan luar individu, yaitu:
- Motivasi Instrinsik, memotivasi kekuatan yang datang dari dalam individu, contoh ketika seseorang melakukan suatu pekerjaan karena disebabkan ia menikmati atau menyukai pekerjaan yang ia lakukan.
- Motivasi Ekstrinsik, memotivasi kekuatan yang datang dari luar individu, contoh ketika seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu karena suatu hadiah yang akan diperoleh atau merasa terancam oleh suatu hukuman yang akan diterima bila ia tidak melakukannya.
C. Sifat-sifat Motivasi
Ranupandoyo dan Husnan (1990, p.204) menyatakan bahwa pada garis besarnya motivasi digolongkan sebagai berikut:
1. Motivasi positif adalah proses untuk mencoba mempengaruhi orang lain agar menjalankan sesuatu yang diinginkan dengan memberikan tambahan uang, tambahan penghargaan dan sebagainya.
2. Motivasi negatif adalah suatu proses untuk mempengaruhi seseorang agar mau melaksanakan sesuatu yang diinginkan, dasar yang dipergunakan adalah lewat kekuatan.
D. Fungsi motivasi
Menurut Sardiman (2007:85) fungsi motivasi ada tiga, yaitu:
1. Mendorong manusia untuk berbuat, motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan, yaitu ke arah tujuan yang hendak dicapai, sehingga motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3. Menyeleksi perbuatan, yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Menurut Hamalik (2000:175) ada tiga fungsi motivasi, yaitu:
1. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar.
2. Sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan.
3. Sebagai penggerak, berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjan.
E. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
Azhari (2004) menjelaskan secara umum motivasi yang dimiliki manusia amat ditentukan oleh tiga dertermian pokok yaitu:
1. Determian yang berasal dari lingkungan seperti kegaduhan, bahaya dari lingkungan, desakan-desakan dari orang lain dan lain-lain.
2. Determian dari dalam diri individu seperti harapan atau cita-cita, emosi, insting keinginan dan lain-lain.
3. Tujuan atau nilai-nilai suatu objek. Menyangkut faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu seperti kepuasan kerja, tanggung jawab, atau dari luar individu seperti status, uag dan lain-lain.
F. Komponen motivasi
Menurut beberapa devinisi, motivasi terdiri dari beberapa komponen, yaitu :
1. Menurut purwanto (2002) komponen motivasi terdiri dari:
a. Menggerakan, seperti menimbulkan kekuatan, memimpin, bertindak dengan cara tertentu.
b. Mengarahkan, seperti menyediakan orientasi tujuan. Tingkah laku diarahkan pada sesuatu.
c. Menopang. Lingkungan sekitar menguatkan intensitas dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan individu.
2. Menurut Mc Donald (dalam Azhari, 2004), tiga elemen penting motivasi sebagai sebuah proses perubahan energi, adalah sebagai berikut:
a. Tingkah laku, penampilan dari motivasi bisa diidentifikasi dari sejumlah kegiatan fisik manusia, berupa perbuatan atau tingkah laku.
b. Perasaan, ketika seseorang menerima kabar bahwa ia harus pulang karena orang tuanya meninggal, secara langsung yang bersangkutan memperlihatkan adanya perasaan yang bisa dilihat dari ekspresi sedih di wajah atau upayanya untuk menghilakan rasa sedih itu.
c. Tujuan, ketika seorang mahasiswa memperoleh nilai tinggi, otomatis ia akan terangsang untuk belajar lebih giat supaya tujuannya tercapai.
3. Menurut Siagian (2004), komponen motivasi terdiri dari:
a. Kebutuhan
Kebutuhan timbul apabila dirasakan adanya ketidakseimbangan dalam diri yang tidak sesuai dengan harapan dari si individu.
b. Dorongan
Dorongan merupakan usaha pemenuhan kekurangan secara terarah, yang berorientasi pada tingkatan tertentu.
c. Tujuan
Tujuan adalah segala sesuatu yang menghilangkan kebutuhan dan mengurangi dorongan, dimana pencapaian tujuan mengembalikan keseimbangan.
2. Melayani
A. Pengertian Melayani
Secara umum melayani merupakan kata yang sudah tidak asing didengar. Kata tersebut seringkali digunakan dan diidentikkan dengan pelayan atau hamba dan tentunya ada yang disebut majikan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), arti melayani adalah membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yang diperlukan seseorang. Dalam hal ini seperti pembantu rumah tangga yang melayani segala keperluan majikannya atau juga seperti seorang pengasuh anak.
Dalam bahasa Ibrani, istilah yang dipakai adalah mesyaret yang biasanya menunjuk kepada pelayanan di Bait Suci atau di tempat lain kepada pelayanan malaikat-malaikat (Mzm. 104:4). Sedangkan dalam bahasa Yunani digunakan beberapa istilah, yaitu:
1) Doulow (douloo), melayani sebagai hamba (budak). David Watson menyatakan: “Seorang budak adalah seorang yang sama sekali tidak memiliki kepentingan diri sendiri. Dalam ketaatan penuh kerendahan hati ia hanya bisa berkata dan bertindak atas nama tuannya. Contohnya seperti budak-budak kulit hitam yang pekerjakan oleh para kaum kulit putih. Dalam hal ini, para budak-budak tersebut selalu melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya, mereka menjadi milik tuannya secara penuh.
2) Diakonew (diakoneo), melayani sebagai pelayan dapur, yang menantikan perintah di sekitar meja makan. Ini bukan pekerjaan yang menyenangkan, karena seringkali ia akan menerima dampratan dari orang yang merasa kurang puas dilayani. Dalam arti luas kata ini menyatakan seseorang yang memperhatikan kebutuhan orang lain, kemudian berupaya untuk dapat menolong memenuhi kebutuhan itu.
3) Uphrethv (hyperetes), melayani sebagai bawahan terhadap atasannya. Seperti para pekerja-pekerja buruh yang bekerja sesuai dengan perintah atasan.
4) Litourgikov (litourgikos), melayani orang lain di depan publik. Pelayanan ini dilakukan kepada sejumlah orang pada saat yang bersamaan, sehingga harus direncanakan dan terus ditingkatkan. Misalnya kegiatan kemanusiaan yang diadakan untuk para orang-orang miskin dan para lansia dimana hal ini membutuhkan adanya perencanaan bersama.
Segala sesuatu yang kita lakukan bila itu untuk memenuhi keperluan, atau keinginan orang lain maka dapat dikatakan sebagai bentuk melayani. Dan orang-orang yang melayani biasa disebut sebagai pelayan, namun sebutan ini lebih banyak digunakan untuk para pembantu rumah tangga dan para pelayan yang melayani di bidang kerohanian, sedangkan dalam dunia kerja lebih disebut dengan, karyawan atau juga buruh.
B. Objek yang dilayani
Siapa yang dilayani dapat dilihat dari bidang mana yang dilayani oleh seorang pelayan. Misalnya pembantu rumah tangga yang bekerja melayani majikan dimana ia bekerja. Sama halnya dengan pekerja buruh yang bekerja melayani atasannya. Namun berbeda dengan para relawan dimana yang dilayani bukan majikan atau atasan tetapi para korban bencana alam. Sedangkan bila dilihat dari bidang kerohanian maka yang dilayani adalah Tuhan.
C. Tujuan melayani
Melayani tentunya memiliki tujuan tertentu, tergantung pada siapa yang melayani dan siapa yang dilayani. Seperti pada para buruh pekerja serabutan yang melayani (bekerja) untuk atasannya, para pembantu rumah tangga dan lainnya yang bekerja untuk majikan, mereka bekerja untuk dapat menafkahi keluarga, lain halnya dengan para relawan yang melayani para korban bencana alam dimana tujuan pelayanan mereka adalah untuk membantu para korban tersebut.
Namun berbeda dengan para pelayan-palayan di bidang kerohanian, dalam hal ini mereka melayani dengan tujuan untuk mengenapi rencana Allah bagi manusia dan juga untuk memuliakan nama-Nya sesuai dengan kepercayaan mereka.
D. Ciri-ciri pelayanan yang sejati
Alkitab mencatat untuk menjadi seorang pelayan yang baik dan berkenan dihadapan Tuhan, adalah harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
(1). Rela memberikan diri untuk melayani (II Tim 2:4);
(2). Memperhatikan kebutuhan orang lain tanpa menunda
(3). Melakukan yang terbaik dengan apa yang saudara miliki.
(4). Mengerjakan setiap tugas dengan penuh dedikasi (penyerahan diri).
(5). Setia pada Pelayanan kita (Mat. 25:23).
(6). Tetaplah Rendah Hati (I Pet 5:5 – BIS)
Seorang pelayan selain haruslah taat, memiliki belas kasihan, memiliki motivasi yang benar dalam melayani, ia juga harus menjaga kekudusannya (dalam kekristenan kekudusan sangatlah penting, hal ini sesuai dengan firman Tuhan dalam Roma 12:1). Menjaga kekudusan disini adalah dengan menjauh dari hal-hal yang negatif yang dapat berakibat buruk terhadap tubuh seperti seks bebas, penggunaan obat-obat terlarang dan lain-lain. Saat-saat ini ada banyak sekali kasus yang terjadi seperti seks bebas, tingkat aborsi yang tinggi dan juga penggunaan narkotika yang semakin marak dikalangan masyarakat. Hal-hal seperti inilah yang dapat membuat kinerja seorang pelayan menjadi menurun.
3. Motivasi Melayani
Motivasi dalam Hasibuan (1996:92) berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti dorongan atau daya penggerak, maksudnya adalah motivasi merupakan sesuatu yang mendorong atau menggerakan seseorang untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan tertentu. Sedangkan melayani kata tersebut seringkali digunakan dan diidentikkan dengan pelayan atau hamba. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), arti melayani adalah membantu menyiapkan (mengurus) apa-apa yang diperlukan seseorang. Sedangkan dalam organisasai Kristen atau pun dalam suatu perusahaan, melayani adalah memberikan suatu jasa atau servis terbaik kepada otoritas atau pemimpin, sesama pekerja, customer (jemaat dalam lingkup gereja ) yang ada, dan berusaha memenuhi segala kebutuhannya.
Dalam hal melayani selain dibutuhkan motivasi yang benar, perlu adanya juga kefokusan, kekudusan dan juga kesetiaan. Khususnya dalam bidang rohani Kristen, motivasi melayani para pelayan adalah karena sudah diselamatkan, karena mengasihi Tuhan. Sesuai dengan firman Tuhan (II Tim 1:9), (Ef. 4:4-14; I Pet 2:9). Semua orang Kristen tanpa kecuali dipanggil untuk melayani Pekerjaan Tuhan.
Pada umumnya setiap orang yang melayani dalam organisasi rohani mempunyai motivasi yang sama, yaitu karena mengasihi Tuhan, namun adapula motivasi yang lain, seperti masuk pelayanan karena ikut teman ada juga karena ada seseorang yang diincar atau disukai dalam organisasi rohani tersebut.
Dari semua penjelasan diatas maka dapat disimpulkan motivasi melayani adalah, sesuatu hal yang mendorong atau menggerakan seseorang ataupun pelayan untuk dapat melakukan, memenuhi dan melayani segala kebutuhan pemimpinnya ataupun customer (dalam lingkup dunia kerja) dan jemaat (dalam lingkup gereja).
BAB III
Penutup
A. Kesimpulan
Motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri setiap individu yang menimbulkan kegiatan untuk melakukan sesuatu yang lebih dan menjamin kelangsungan dari tindakan apa yang akan dilakukannya. Dalam segala kegiatan pelayanan baik dalam organisasi rohani maupun sekuler. motivasi melayani adalah, sesuatu hal yang mendorong atau menggerakan seseorang ataupun pelayan untuk dapat melakukan, memenuhi dan melayani segala kebutuhan pemimpinnya ataupun customer (dalam lingkup dunia kerja) dan jemaat (dalam lingkup gereja).
Daftar Pustaka
Chaplin, J.P. (2000). Kamus Psikologi Jakarta. P.T. Raya Grafindo Persada.
Gellermar, S.W. (1970). Motivation and Productivity. Bombay: D.B. Taraporela & Co. Private ltd.
Teori Motivasi, Http://id.wikipedia.org, 21 November 2010